Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Ngidam Mau Makan Jengkol

597 35 3
                                        

***

My Brother

Written By HwangFitri_

***

Indonesia, 00:27 -

Al menyandarkan kepalanya pada kursi mobilnya. Dia memejamkan matanya secara perlahan, lalu menghembuskan napas dengan begitu panjang.

"Ya. Apa yang tadi gue katakan emang benar kalau gue bukan seorang pembunuh. Gue bukan pembunuh, cewek itu sendiri yang bunuh dirinya sendiri. Bukan gue. Rexi enggak akan marah sama gue," gumam Al pelan.

Al perlahan membuka matanya, lalu menatap langit-langit mobilnya dengan lelah.

"Tuhannnnn! Kenapa cobaan di dalam hidup gue enggak kelar-kelar?! Argggg!" seru Al stres.

"Ck! Dan sekarang, gue malah mikirin masalah papa yang tiba-tiba restuin pernikahan gue sama Rexi dengan cepat tanpa perlawanan. Parahnya, dia minta pernikahannya dipercepat. Gue beneran enggak bisa mikir! Gue blank!" kesal Al.

Al memukul kepalanya dengan emosi, lalu meringis karena kesakitan akibat pukulannya.

Al mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon seseorang.

"Selamat malam, Bos. Tumben Bos menelepon saya," kata si penerima telepon.

"Ada cewek yang meninggal di jalan *** Lo ke sana dan urus jasadnya," kata Al santai.

"Meninggal gara-gara apa, Bos?" tanyanya penasaran.

"Enggak tahu," jawab Al malas.

"Ouh ... Oke, Bos. Ba-"

"Bayarannya besok aja. Gue lagi enggak mood ke ATM," potong Al karena tahu apa yang selanjutnya ditanyakan oleh orang suruhannya itu.

"Ah! Baiklah kalau begitu, Bos. Siap urus dengan cepat!" katanya antusias.

"Ah iya! Satu lagi. Lo cari tahu tentang CEO perusahaan Maxis, ikuti dia. Cari tahu juga, apa hubungan CEO perusahaan Maxis dengan CEO perusahaan Dolken. Lo cari tahu, mereka masih bekerja sama di bidang perusahaan apa. Kalau udah dapat infonya, langsung kirim datanya sama gue," perintah Al.

"Baik, Bos. Apa masih ada?" tanyanya.

"Enggak ada," final Al.

Al memutuskan sambungan telepon mereka berdua.

Tak usah repot-repot Al menjelaskan tentang siapa Ceo perusahaan Maxis dan CEO perusahaan Dolken itu, kedua perusahaan itu sangat terkenal di bidang textile. Jadi, sangat mudah dikenali walau hanya menyebutkan nama perusahaannya saja.

"Selain cuma sewa mata-mata, gue juga harus turun tangan buat lihat pergerakan Anggara dan Barack," gumam Al.

"Sial! Gue niatnya mau santai, kenapa malah dibantai! Fuck!" kesal Al sambil memijat pelipisnya.

***

Kamar Rexi -

"Ck! Si Bantet kenapa enggak ngangkat telepon gue, sih?! Dia enggak sekolah juga! Kerja apalagi, dia pengangguran!" kesal Rexi karena Al tak kunjung mengangkat panggilannya.

Sekali lagi Rexi menelepon nomor Al, dan untuk yang kesekian kalinya Al tak mengangkat panggilan teleponnya.

"Aaaaa! Sialan! Mana gue ngidam banget lagi!" teriak Rexi stres usai melempar ponselnya dengan keras di atas kasur.

My BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang