Al menenggelamkan seluruh wajahnya pada perpotongan leher Rexi usai dia mendengarkan pertanyaan tiba-tiba dari Rexi.
"Bilang sama gue, siapa yang bilang sama lo kalau gue sama Renata udah ngelakuin hal yang sama kayak lo tadi?" tanya Al dengan lemasnya.
Bukannya menjawab, Rexi malah tersenyum sinis.
"Rex ..."
Al mengangkat pandangannya dan menatap lekat kedua bola mata Rexi.
Rexi mengalihkan pandangannya dan tak mau menatap Al sedikitpun.
"Maafin gue, Rex ..." lirih Al.
"Lagi pula, gue ngelakuin itu karena Renata sakit," lanjut Al pelan.
Rexi langsung menatap ke arah Al sambil memperlihatkan senyuman yang begitu sulit untuk diartikan.
"Gue ... Gue sayang sama lo ..." lirih Al dan kembali menutup seluruh wajahnya di leher Rexi.
"Gue ... Gue enggak mau kalau perasaan lo huat gue menghilang gitu aja, Rex," lanjut Al sedih.
"Dan cuma ini jalan dan cara satu-satunya biar kita berdua bisa dekat, Rex. Ini cara satu-satunya biar lo enggak bisa menjauh dari gue, Rex," kata Al.
Rexi menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Cara lo salah, Al. Selain lo menyiksa fisik dan batin gue, lo juga sama aja kalau ngerusak gue Al!" batin Rexi menentang.
Al mengangkat pandangannya sambil menatap kedua bola mata Rexi.
"Maafin gue," pinta Al untuk yang kesekian kalinya.
Al perlahan menghapus air mata Rexi yang mengalir pada pipi wanita kesayangannya itu.
Al juga bahkan dengan lembut mengusap memar yang dibuatnya pada pergelangan tangan Rexi.
"Maaf ..."
Untuk yang kesekian kalinya kata 'Maaf' itu kembali keluar dari mulut Al dan didengar oleh kedua telinga Rexi.
"Maaf? Lo cuma minta maaf berkali-kali dan berulang-ulang, Al. Beberapa jam nanti, lo berubah lagi. Kata maaf lo itu cuma sementara doang, Al!" bantah Rexi di dalam hati.
Rexi menundukkan kepalanya tanpa berkata apapun, sedangkan Al mengangkat Rexi dengan lembut untuk duduk di pangkuannya.
"Al ..."
Rexi menangis.
Al mengecup kening Rexi, lalu beralih untuk mengecup setia inci leher Rexi.
"Oh God! Apalagi ini?! Gue benar-benar enggak bisa ngapa-ngapain!" batin Rexi.
Rexi semakin mengeluarkan air matanya.
Muach!
Al beralih mengecup kening Rexi dan perlahan wajah menyesal dan rasa bersalahnya sudah tak ada lagi.
"Beberapa Minggu lagi, gue bakalan menunggu kehadiran dia kalau emang buah hati kita ada di dalam perut lo," kata Al enteng sambil melirik ke arah perut Rexi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Brother
Novela Juvenil[𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭] Alvaro Addison, seorang pria yang memiliki sikap dingin dan semena-mena. Sikap dingin dan sikap semena-mena Alvaro semakin menjadi-jadi setelah sang ibu menikah dengan salah satu CEO yang memiliki seorang putri yang bernama Rexi Alexa a...
