Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Jangan Bermain Di Depan Umum

3.2K 127 6
                                        

"Ngapain ngajak gue ke sini kalau tadi ngelarang gue?" tanya Rexi malas.

"Bahkan, lo cap gue sebagai cewek murahan, kan? Minta gue lepasin semua baju gue," lanjut Rexi sinis.

Grep!

Ice tiba-tiba memeluk tubuh Rexi dengan begitu cepat. Membuat Rexi kaget saja.

"Maafin gue, karena gue tadi enggak ngertiin lo," kata Ice penuh penyesalan.

"Maaf. Maaf banget karena gue enggak peka banget buat jadi kakak," kata Ice lagi.

"Ma-"

"Enggak, kok," potong Rexi cepat. Dia membalas pelukan Ice dengan erat.

Rexi melepaskan pelukannya perlahan dari tubuh Ice.

"Ayo kita pulang," kata Rexi lembut. Dia tersenyum manis kepada sang kakak.

"Enggak usah balik dulu lah. Kita nge-club dulu. Udah lama banget kita enggak nge-club bareng, kan?" kata Ice menawarkan.

"Gue ada masalah. Mau main di sini juga. Kayaknya enak banget," kata Ice lagi.

Ice menggandeng lengan Rexi dengan lembut layaknya sepasang kekasih.

"Sialan! Pantas aja lo pakai baju kayak gini. Ternyata lo mau ke club juga!" kesal Rexi.

Ice mengangkat pundaknya secara bersamaan sebagai jawaban. Dia tersenyum manis.

Ice menggandeng tangan Rexi untuk masuk ke dalam club layaknya seorang kekasih yang sangat romantis.

Suara musik menggema-gema di dalam ruangan itu.

Bau alkohol menyeruak di indera penciuman.

Wanita dengan pakaian yang boleh dikatakan kurang bahan berjalan kesana-kemari.

Sungguh tempat yang benar-benar sangat brutal.

"Wine-nya," kata Ice memesan alkohol kesukaannya.

"Bang, gue juga mau satu!" seru Rexi antusias. Dia ingin menikmati wine merah di malam hari itu.

"Enggak. Lo minum soda aja!" jawab Ice menolak sambil menggelengkan kepalanya.

"Bang ... Hah ... Ya ..." mohon Rexi sambil menatap kakaknya itu dengan wajah memelasnya.

"Ck! Ya udah deh. Tapi, dikit doang yah?" kata Ice yang akhirnya menyerah.

Rexi menganggukkan kepalanya, lalu kemudian mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban.

Ice dan Rexi menunggu wine mereka sambil sesekali menggerakkan kepala saat mendengarkan lantunan musik di dalam club itu.

"Bang! Gue mau ke sana dulu, yah!" seru Rexi sambil menunjuk suatu tempat.

"Wine lo?" tanya Ice.

"Taro aja dulu," jawab Rexi.

"Ya udah. Kalau ada yang macam-macam sama lo. Panggil gue aja atau lo teriak," kata Ice memperingati.

"Hum ..." deham Rexi, lalu berjalan ke tempat yang tadinya dia tunjuk.

"Malam ini, gue bakalan merasa happy dan bebas. Enggak tahu sama besoknya," Rexi membatin sambil tersenyum tipis.

"Cukup limpahin aja di malam hari ini. Just happy for tonight. Forget all problem. Forget Alvaro. Forget Renata. I just wanna happy tonight. Just happy, happy and happy!" batin Rexi.

***

Ice melirik ke arah sepasang kekasih yang sedang bermain panas di pojok tempat hiburan malam itu.

My BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang