Rexi tengah duduk di balkon kamarnya dengan mata yang menatap bintang di malam hari itu dengan tenang.
Terkadang senyum kecut terulas pada bibir mungilnya dan terkadang juga kedua bola mata indahnya berkaca-kaca saat dia mengingat, di mana cinta pertamanya sudah berciuman dengan wanita lain. Dan parahnya, orang yang dia cium adalah sahabat akrabnya sendiri.
Ya. Rexi mengakui kalau yang dikatakan oleh orang-orang, cinta itu indah. Tapi, itu bagi kalian saja yang kisah percintaannya berjalan lurus dan harmonis. Sangat beda dengan Rexi yang kisah kasih percintaannya jauh dari kata harmonis.
"Menurut gue, cinta itu layaknya sebuah duri. Semakin lo tekan, semakin lo sakit. Itu definisi cinta menurut gue," batin Rexi sambil tersenyum kecut.
Rexi menekuk kedua lututnya sambil menenggelamkan seluruh wajahnya pada tekukan lututnya itu.
Bagaikan mengerti dengan keadaan Rexi, hujan tiba-tiba turun dengan begitu derasnya, bersamaan dengan air mata Rexi yang juga menetes hingga mengalir dengan begitu deras dari kedua bola mata indahnya.
Angin kencang berhembus dengan begitu kencang untuk menyentuh kulit putih mulus milik Rexi dan diikuti percikan air hujan yang juga ikut menyentuh kulitnya itu.
Dingin? Ya, udaranya sangat dingin. Bahkan, amat sangat dingin. Tapi, Rexi bagaikan perapian yang kebal terhadap udara yang dingin.
"Gue enggak percaya cinta! Gue enggak percaya cinta! Gue enggak percaya!" teriak Rexi histeris.
Brak! Brak! Brak!
Suara jendela kamar Rexi yang saling menabrak dinding kamar Rexi karena hembusan angin kencang berhasil menambah suana ribut yang mengganggu indera pendengaran. Tapi, Rexi tak peduli akan hal itu. Dia seakan tuli.
Beda halnya dengan Rexi, seseorang malah merasa begitu terganggu dengan suara ribut yang ditimbulkan oleh jendela kamar dan tembok kamar milik Rexi.
Ceklek!
Suara pintu kamar Rexi terdengar saat seseorang membuka pintu kamarnya dengan sedikit keras karena merasa kesal kepada Rexi.
Al menatap Rexi dengan tatapan yang benar-benar sangat kesal. Bahkan, wajahnya sudah sangat kesal sewaktu dia berjalan menuju kamar adik tirinya itu.
"Woy Rexi! Lo gila apa gimana, sih?!" tanya Al kesal.
"Ini udah jam sembilan malam. Bentar lagi bakalan jam sepuluh malam. Lo kenapa enggak tidur, sih?!" tanya Al lagi dengan kesal.
Rexi yang mendengarkan itu langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah Al yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ck! Jendela kamar bahkan belum lo kunci! Mana lo duduknya di balkon kamar sambil kena hujan. Lo gila apa gimana?! Ha?!" tanya Al emosi karena tak habis pikir dengan Rexi.
"Kayak bocah sekolah dasar aja. Tahu enggak, sih?!" tanya Al.
Bukannya menjawab atau menentang apa yang dikatakan oleh Al, Rexi lebih memilih untuk berdiri dari posisinya dan bergerak untuk mengunci jendela kamarnya. Setelah itu, dia berjalan masuk ke kamar mandi pribadi yang ada di dalam kamarnya.
"Gila banget tuh anak. Cewek gila! Udah larut malam kayak gini. Tapi, dia malah kelayapan dan enggak tidur!" kesal Al.
"Dia lagi mikirin apaan, sih?!" tanya Al kesal.
Brak!
Al menutup pintu balkon kamar Rexi dengan kasar.
"Kenapa bikin emosi aja, sih?! Ck! Basah semua, kan!" kesalnya.
Al berjalan mengambil lap yang ada di belakang pintu kamar Rexi, lalu kemudian membersihkan genangan air di tempat Rexi duduk tadinya
"Ck! Bikin kerjaan aja nih anak!" oceh Al sambil terus membersihkan genangan air tersebut.
Tak beberapa lama, pintu kamar mandi Rexi terbuka dengan lebar dan menampilkan Rexi yang tengah terbalut oleh handuk putih pendeknya. Ah ... Jangan lupakan Rexi yang memegang rambut basahnya. Sepertinya, Rexi habis mandi dan juga berkeramas.
"Malam ini lo seksi, Rex," gumam Al tanpa sadar.
Ya. Al masih berada di dalam kamar Rexi saat itu, tetapi Rexi tidak tahu akan kehadiran Al di dalam kamarnya.
Rexi berjalan menuju cermin full body yang ada di meja riasnya. Dia memandang wajahnya dengan begitu sendu dan juga begitu nanar.
"Apa bedanya gue sama Renata? gumam Rexi.
"Bahkan, gue orang pertama yang udah ngambil first kiss lo. Apa bedanya gue sama dia?!" tanya Rexi lagi.
"Bahkan, gue orang yang paling berharga di dalam hidup lo semasa kecil ..." lirihnya pelan.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Please, lihat gue, Al. Tolong, lihat gue, Al. Jangan fokus ke Renata ..." lirih Rexi.
Degh!
Seketika rasa sesak muncul di jantung Al saat dia mendengarkan namanya disebut oleh Rexi.
"Gu ... Gue?" tanya Al di dalam hatinya dengan kaget.
"Bukannya Deian?" tanya Al lagi di dalam hatinya.
Rexi membalikkan badannya dan berjalan keluar menuju dapur. Dia merasa haus, tetapi air yang ada di pantry kamarnya sudah habis.
Al juga mengambil kesempatan untuk keluar cepat dari kamar Rexi saat Rexi sudah pergi.
***
"Maksud Rexi apa? Gue enggak ngeh, tuh. Apa ada hal yang lain?" tanya Al di dalam hatinya. Dia kembali mengingat perkataan Rexi.
"Ck! Masih bocah udah pintar aja buat main cinta-cintaan!" seru Al sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Hah ... Ya. Gue akui kalau emang gue pernah sayang sama Rexi. Tapi, semenjak gue berusaha buat anggap Rexi sebagai adik, perasaan gue juga semakin berkurang dan berganti dari rasa sayang seorang kakak untuk adik. Entah kenapa, perasaan gue semakin menipis ..." gumam Al, dia menjeda ucapannya.
"Apa karena kehadiran Renata?" lanjut Al lagi bertanya pada dirinya sendiri.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Pagi hari telah tiba.
Al, Rexi dan Ice kini sudah berada di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi mereka masing-masing.
"Mama sama Papa di mana, Ice?" tanya Al sambil melirik sekilas ke arah Ice.
"Biasalah, urusan kantor," jawab Ice, lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Hum ... Mereka ternyata sibuk banget, yah?" kata Al dan Ice hanya berdeham.
"Ah iya, Rex. Hari ini, lo berangkat ke sekolah bareng Al, yah? Soalnya, hari ini gue masuk siang. Jadi, gue mau mager-mageran di apart dulu deh," kata Ice.
Rexi yang tadinya menikmati sarapannya dengan tenang langsung mengangkat pandangannya sambil menatap Ice dengan sebelah alis yang terangkat.
Ice memutar kedua bola matanya dengan begitu malas.
"Gue beneran, Rex. Enggak ada bohongnya," kata Ice malas. Dia yakin kalau Rexi tak percaya pada dirinya, padahal dia sudah berbicara benar.
"Tapi, Bang. Gue udah janjian sama Renata tadi waktu baru bangun tidur. Gue mau berangkat berdua sama dia," kata Al mencela.
"Renata?" tanya Rexi di dalam hatinya.
Seketika Rexi meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar di atas piringnya.
"Nafsu makan gue tiba-tiba hilang cuma karena nama Renata disebut sama Al. Atau nafsu makan gue tiba-tiba hilang karena perhatian Al buat Renata lebih besar daripada perhatian buat gue?" tanya Rexi di dalam hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Brother
Roman pour Adolescents[𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭] Alvaro Addison, seorang pria yang memiliki sikap dingin dan semena-mena. Sikap dingin dan sikap semena-mena Alvaro semakin menjadi-jadi setelah sang ibu menikah dengan salah satu CEO yang memiliki seorang putri yang bernama Rexi Alexa a...
