Sebelum turun dari mobil, Theo memperhatikan pantulan wajahnya yang tampan dalam cermin milik Raeya yang tertinggal di mobilnya. Theo mengernyit sambil mengelus dagunya.
"Hm, tampan sekali" Puji laki-laki itu pada dirinya sendiri.
Dengan balutan kaos polos berwarna hitam dan celana jeans selutut, terlihat sederhana tapi sangat tampan jika Theo yang menggunakannya.
Berjalan dengan penuh percaya diri, Theo tersenyum ramah kepada security yang sedang berjaga di depan pintu kantor milik Arka.
"Tuan Muda, lama tidak bertemu. Selamat ulang tahun"
Theo terkesan kepada security yang mengingat tanggal ulang tahunnya. Karena sudah lama dia tidak berkunjung ke kantor Arka. Dulu sejak kecil Theo, Gerald, dan Zayn sering berkunjung untuk menggoda dan bermain bersama pegawai wanita disana.
"Terimakasih Kak, Aku terkesan Kau masih mengingat ulang tahunku" Theo berucap terima kasih dengan senyum tulus.
"Tentu, silahkan masuk. Apa perlu Aku jaga?"
"Terimakasih, Aku akan pergi sendiri"
Theo menarik nafas dalam, matanya menjelajah para pegawai yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Satu... Dua... Tigaa..."
Setelah hitungan ketiga, Theo berjalan dengan cepat menuju lift.
"THEOO!!"
Sebuah teriakan melengking membuat Theo berjengit kaget.
"Sial" Umpat Theo kemudian berlari dengan kencang.
Dulu saat kecil terasa menyenangkan jika menggoda para pegawai wanita, tapi sekarang Theo takut. Para pegawai wanita sekarang lebih agresif dan Theo takut pipinya tidak perawan karena bibir para pegawai wanita yang seakan siap menciumnya kapan saja.
"Haahh mengerikan sekali" Ucap Theo terengah-engah saat sudah berada di dalam lift.
Theo tidak sendirian di dalam lift, Geysa terdiam menatap Theo dengan mata bulatnya yang lucu.
"Oh, halo Geysa. Kau sendirian?" Theo tersenyum kecil berusaha terlihat cool, padahal Geysa sudah melihat tingkah konyol Theo sebelumnya.
"Iya, Geysa membawakan berkas Papa yang ketinggalan. Oh iya, Geysa sudah menyiapkan kado, coba kak Theo tebak apa?"
"Emmm" Theo tampak berpikir sebentar.
"Gelang?" Tanya Theo yang dibalas gelengan kepala oleh Geysa.
"Salah. Aku tidak tahu kalau Kakak ada disini, jadi kadonya akan Aku berikan nanti saja"
"Baiklah-baiklah, Kak Theo jadi tidak sabar" Theo mengelus rambut Geysa dengan gemas.
"Btw, apa yang kakak lakukan disini? Seharusnya 'kan kakak jalan-jalan karena imi hari yang spesial untuk kakak"
"Eehh, ada sedikit urusan dengan paman Arka. Aku perlu bicara sebentar"
Geysa mengangguk paham.
Lift berhenti di lantai 30 tempat CEO berada, Theo menggandeng Geysa berjalan bersama menuju ruangan Arka. Keduanya berbincang santai dengan penuh tawa, orang-orang yang tidak tahu mereka keluarga akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.
Sekertaris Arka langsung berdiri tegak kemudian membungkuk hormat kepada Theo dan Geysa, sekertaris itu membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan keduanya masuk.
Tampak Arka sedang beristirahat sambil meminum kopi hitam tanpa gula.
"Paman"
"Oh, Theo. Selamat ulang tahun"
KAMU SEDANG MEMBACA
3A
Teen FictionArka, kakak pertama di antara mereka bertiga. Tampan, cuek, pintar, sayang Aura. Azka, kakak kedua. Tampan, jahil, fucekboy, sayang Aura. Aurora, atau sering dipanggil Aura. Si bungsu kesayangan keluarga dan kakak-kakaknya. Apapun permintaannya, s...
