1480 words.
Gak mau tempe harus spam
Spam setiap paragraf 😷
Typo tandai ya
---
"Gendong" Aura menjulurkan kedua tangannya kehadapan Arka. Mata bulatnya terbuka setengah karena gadis itu sedang malas membuka mata dengan penuh, apalagi karena Aura baru bangun tidur dan masih setengah mengantuk.
Arka menggendong Aura di punggungnya dengan telaten, mengecup dahi Aura dengan secepat kilat agar adik kesayangannya itu kembali tidur. Seberat apapun Aura, Arka tidak akan mengeluh.
Evin menguap tanpa menutup mulutnya, melainkan menggaruk pipi mulusnya dengan tatapan mata melirik Arka. Dia iri, karena Aura tidak meminta gendong kepadanya.
"Evin, tas Aura bawain" Evin mengangguk patuh ucapan Arka. Demi di cap sebagai calon adik ipar yang baik hati, Evin akan membawakan tas Aura yang berisi berbagai macam coklat dan cemilan lain. Evin bisa melihat hanya ada satu buku yang Aura bawa, laki-laki itu tergelak renyah. Arka ngeri dibuatnya.
Sedangkan sang ratu malas sedang terlelap nyenyak di punggung sandar-able Arka.
Arka menghela nafas saat jaraknya sudah mendekati parkiran mobil, Evin menatapnya bingung. Kemudian beralih menatap objek yang membuat Arka tampak lelah.
Tasya sedang melambaikan tangan dengan semangat, dengan teriakan melengking memanggil nama Arka.
"KAK ARKA! SINI! TASYA TUNGGUIN LOH DARI TADI!!!"
Semua siswi menatap bingung gadis pendek dengan seragam SMP yang melambaikan tangannya dengan semangat kepada Arka.
Aura mengerjapkan matanya, nada nyaring dan terdengar menjengkelkan itu mengganggu tidur nyenyaknya. Dengan berat hati ia turun dari gendongan Arka. Masuk ke dalam mobil dengan bibir mengerucut.
"Kamu ngapain? Gak sekolah?" Arka menghampiri Tasya, membenarkan poni Tasya yang miring.
"Jadwal pulang di majuin hari ini. Dari pada Aku bosen di rumah, mending Aku kencan sama Kak Arka" Tasya berseru dengan semangat.
"Kencan?"
"Gadis pendek kering itu pacar Arka?"
"Gak mungkin lah"
"Gak cocok banget sama Arka"
"Kalau emang iya, kok gitu banget ya?"
Seketika gerombolan gadis yang asik bergosip itu terlunjak saat mendapat tatapan datar dari Arka. Tatapan datar, tapi membuat jantung ke-tiga gadis disana berderu tidak karuan. Takut.
Orang pendiam seperti Arka saat marah akan terlihat lebih mengerikan, meskipun hanya lewat tatapan mata.
Arka beralih menatap Tasya, mata bulat gadis itu tampak berkaca-kaca. Jika yang mengatakan hal tersebut adalah Azka. Tasya bisa memaklumi karena Azka memang suka bercanda. Tapi perkataan ketiga gadis tadi entah kenapa membuat hati kecil Tasya berdenyut nyeri.
Arka meraih bahu Tasya dan mendudukkan gadis kecil itu ke bangku samping kemudi. Sekali lagi Arka melirik kearah ketiga gadis yang bergosip tadi, Arka memotret wajah mereka dan menyimpannya di otaknya. Laki-laki itu melirik beberapa titik suruhannya yang berjaga, mereka yang paham segera memotret ketiga gadis tadi tanpa sepengetahuan mereka.
Saat Arka sudah masuk kedalam mobil, giliran Evin yang menatap ketiganya yang hanya bisa diam membeku. Evin menggelengkan kepalanya, entah apa yang mereka pikirkan. Seakan mereka paling sempurna di dunia. Jika dilihat dari wajah 'pun, Tasya jauh lebih cantik dan imut dari mereka bertiga. Hanya karena bentuk badan saja mulut mereka berucap tajam?
KAMU SEDANG MEMBACA
3A
Teen FictionArka, kakak pertama di antara mereka bertiga. Tampan, cuek, pintar, sayang Aura. Azka, kakak kedua. Tampan, jahil, fucekboy, sayang Aura. Aurora, atau sering dipanggil Aura. Si bungsu kesayangan keluarga dan kakak-kakaknya. Apapun permintaannya, s...
