Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Kejadian kemarin dengan Shasyania masih menggerayangi pikiran Nevan, tidurpun jadi tidak tenang dan harapan untuk lebih baik di hari esok menjadi sirna ketika sosok yang menjadi pemicu dari kegelisahannya tersebut tengah berada dalam jarak pandangnya.
"Kenapa ada dia?"
Atom yang mendengar nada kurang bersahabat itu langsung pasang badan, "Nona Shasyania berada di sini atas kemauan Tuan Besar, beliau memerintahkan agar kalian berangkat bersama," jelasnya.
"What? apa kau bilang? dan kenapa harus aku? bukanya kau sendiri yang membawanya kemari? jadi antar sendiri!" sungutnya tajam, "aku tidak ingin lagi di libatkan dalam urusan konyol kalian! Cukup! ini semakin membuatku muak!" sambung Nevan, ia begitu kesal sampai niatannya untuk sarapan menghilang.
"Ini perintah Tuan Besar, Tuan harus mematuhinya! lagipula hari ini juga merupakan hari pertama Nona Shasyania di sekolah barunya, jadi kehadiran Tuan Muda pasti sangat di perlukan!"
Nevan mendekat mengacungkan telunjuknya pada Shasyania, "Kau kira dia ini anak kecil? masih bocah? sampai harus aku temani?"
"Ini perintah, Tuan!"
"Alah! aku tidak mau tahu lagi! Urus saja sendiri! dan aku yakin dia juga tidak mau lagi berdekatan denganku!" imbuhnya yakin bersama sekelebat ingatan kemarin. Nevan menghindar dari kontak mata mungkin karena dia menyesal atau begitu kesal dengan hal yang terjadi.
"Tuan, sarapan dulu," ucap Murti.
"Selera makanku sudah hilang!"
Saat Nevan tidak lagi terlihat oleh pandangan mata barulah Shasyania berani mendongakkan kepala menatap Atom, "Pak, saya bisa berangkat sendiri, jadi jangan memaksanya lagi."
Sebenarnya Shasyania tidak tahu menahu jika ia akan dibawa kediaman Eldione, karena ia pikir Atom menjemput untuk mengurus administrasi di sekolah barunya hingga ketidak tahuannya itu kembali menambah kesalahpahaman diantara dirinya dan juga Geonevan.
"Tidak bisa Nona! karena sama seperti yang saya ucapkan tadi, ini merupakan perintah dari Tuan Besar, jadi semua harus di lakukan sesuai keinginan beliau! Nona tenang saja."
Situasi ini sungguh membuat Shasyania serba salah terlebih saat keheningan mulai terusik, ketika dari arah luar teriakan kekesalan kembali menggema di penjuru ruangan.
"ATOM! APA-APAAN KAU? KEMBALIKAN KUNCI MOBILKU!"
"Baiklah, tapi hanya jika Tuan Muda berangkat bersama Nona Shasyania!"
"ARRGGH! menyebalkan! kau benar-benar membuat kesabaran ku hilang, ATOM!"
PRAAANG!
Dengan penuh emosi Nevan menendang sebuah guci antik yang berada di hadapannya, bahkan efek dari tindakannya justru balik menyerang. Ini dia yang dinamakan senjata makan tuan.
"Tuan Muda!" seru Atom, saat melihat luka di tangan Nevan.
"DIAM DI TEMPAT DAN JANGAN MENYENTUHKU!" seru Nevan dengan tatapan nyalang.
"Dan untuk lo! Kemari!" titah tersebut ia arahkan pada Shasyania lalu kembali bersuara, "awas saja kalau kebodohan ini sampai membuat gue terlambat!" serunya tajam bahkan tanpa menoleh orang yang tengah ia ajak bicara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil yang di kendarai Nevan melaju kencang dan entah karena letak SMA GUARDIANS yang begitu jauh atau karena Nevan yang menghindari kemacetan, hampir sejam lamanya namun mereka belum juga sampai pada titik tujuan hingga kegelisahan itu semakin membuat Shasyania tidak nyaman.
"Kita salah jalan," ucapnya yakin.
"Tahu apa lo!"
Shasyania menoleh kesamping melihat si pengemudi yang tampak serius memandangi jalanan tanpa meliriknya untuk sekedar memastikan, "Plang itu, ini jalanan tidak mengarah ke SMA Guardians."
"Ck, peka juga lo ternyata!" tukasnya, "tapi... kenapa untuk urusan yang lain lo seakan tutup mata? Lo pasti sadar, kenapa lo masih berani datang? Segitu gak berharganya harga diri lo? Yang kemarin itu cuma permulaan lo beruntung! Tapi gak untuk hari ini, liat aja!"
Krrrt!
Mobil Nevan berhenti, laki-laki itu menoleh kesamping, "Padahal, nasib lo akan jauh lebih indah jika lo tidak serakah! tapi mau gimana lagi, semua sudah terjadi!" tekan Nevan di setiap kalimat, tangannya mulai bergerak untuk membuka seat belt.
Cklik!
"Mau apa kamu?" seketika Shasyania menyilangkan tangan sebagai perisai tubuh terlebih lagi saat Nevan sengaja mencondongkan diri hingga membuat jarak diantara mereka semakin terkikis.
"Jangan macam-macam!"
"Ckck, gak usah sok nolak, gue tahu lo suka, buktinya lo datang lagi setelah kejadian kemarin! Ayo, dengan senang hati, mari kita lanjutkan sesuatu yang tertunda."
"Lepas! menjauh Geonevan!"
"Udah diam! harga diri lo udah mati di hadapan gue, Shasyania!"
Tindakan agresif Nevan semakin membuat Shasyania takut, kejadian hari ini menarik kilas balik di masa lalu hingga membuatnya memberontak sekuat tenaga.
"Jaga sikapmu, Geonevan! jika kamu berani macam-macam, aku tidak akan diam!"
"Omong kosong!"
Perlawanan dari Shasyania membuat kedua pasang mata itu kembali saling bersitatap. Pandangan amarah dan guratan kebencian menyatu menambah kesan memanas di dalam mobil tersebut.
"Bukannya ini yang lo inginkan?"
"Menja___"
Bruuk!
Nevan kembali bergerak menghimpit lalu mencengkram kedua bahu Shasyania, hingga beralih pada bibir yang sempat ia cicipi kemarin, "Gue bantu lo buat ini semakin mudah! sekarang tunjukkan, seberapa rendahnya lo di hadapan gu__!"
Plaaak!
Tamparan melesat dan untuk pertama kali pipi itu mendapat ganjaran, Shasyania pelakunya ia berhasil membuat Nevan sejenak diam.
"Mudah sekali kamu mengatakan harga diri seseorang, tapi jika kamu tidak cukup mengerti kamu tidak berhak menghinaku lebih jauh dari ini, Geonevan!"
Nevan memperlihatkan senyum mengejek, "Gue paling benci melihat kemunafikan! daripada lo terus berkubang dalam keserakahan sebaiknya langsung katakan! Katakan saja lo butuh berapa, haah?"
Shasyania kembali mendorong tubuh Nevan untuk menjauh, "Simpan saja uangmu! kamu pikir aku senang? Aku juga tidak menginginkan situasi seperti ini!"
"Jika tidak, harusnya lo menyerah! apa sulitnya nolak! Bilang aja semua memang karena uang? Lo tergiur dengan semua yang telah dijanjikan, itukan yang buat lo bertahan! Susah buat mundur!"
"Satupun tuduhan mu tidak mendasar, Geonevan!"
"Lalu apa? jangan bilang lo mau bikin alasan tentang Ibu lo yang sakit? BASI! tinggal nolak aja banyak alasan! PARASIT! keluar lo dari mobil gue!"
Cukup untuk hari ini Shasyania tidak kembali berusaha untuk meluruskan benang kusut yang terjalin diantara mereka. Tidak ada gunanya menjelaskan ketika sama-sama memiliki pandangan tersendiri untuk membernarkan ego dan perasaan masing-masing.
Apapun alasannya, sekuat apapun kenyataan yang terjadi akan selalu dibantah dan terlihat salah di mata orang yang sudah terlanjur membenci.
Broooms!
Nevan telah menjauh namun luka hati Shasyania masih terasa, bahkan untuk sekedar bernafas lega rasanya sulit, ia tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami situasi seperti ini.
Dibenci begitu dahsyatnya dengan tuduhan-tuduhan mengorek hati, namun mau bagaimana lagi ia pun masih bingung untuk mencari jalan keluar yang terlihat gelap untuk sekadar ia lewati.