Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Lima jam, adalah waktu yang dihabiskan Shasyania untuk menjaga dan merawat Gemmi selayaknya perawat sampai pada akhirnya mentari berganti rembulan baru saat itulah gadis itu terbebas dari tugas dadakannya.
Lelah? itulah raut yang tercetak jelas dari pancaran wajah Shasyania, rasanya ingin sekali menghela nafas lalu berteriak sekencang mungkin, andai saja bisa, pasti rasanya akan sangat melegakan.
Bak terbelenggu diantara tali yang tak kasat mata hatinya pun mendingin, pikirannya melalang buana entah kemana sampai lamunan itu buyar saat lampu sorot mengarah tepat kearahnya.
Crrrt!
Terang menyilaukan mata, kedua tangan Shasyania refleks terangkat menghalau cahaya sampai sepersekian detik kemudian terdengar suara yang mengajaknya bicara.
"Ayo masuk!"
Begitu familiar, Shasyania hafal betul siapa pemilik dari intonasi tersebut.
"Masuk Shasyaa, antrian di belakang makin panjang," kembali berucap bahkan sekarang tangan orang itu keluar dari kaca mobilnya memberi isyarat agar Shasyania bergerak sesuai apa yang di minta.
Blag!
"Kamu... kenapa masih di sini?"
Nevan belum juga menjawab tubuhnya malah semakin condong mendekati Shasyania, sontak saja pergerakan Nevan tersebut membuat Shasyania menyilang tangan di depan dada. Ini adalah pertahanan alami saat seseorang merasa terancam.
"Ck!" Nevan berdecak, niat baiknya disalah artikan, matanya menuntun agar Shasyania melihat arah pandang yang coba untuk ia jelaskan.
Cklik!
Haruskah Shasyania meminta maaf? karena yang terjadi Nevan hanya membatunya untuk memasang sabuk pengaman. Sebuah perhatian, namun seharusnya tidak dilakukan secara tiba-tiba.
"Mikir apa tadi, mhh?"
Shasyania berpura-pura biasa, ini adalah hal yang paling sulit untuk diuraikan, tapi yang jelas berdekatan dengan Nevan membuat perasaannya tidak menentu, sebuah tarikan yang entah berasal dari bagian dirinya yang mana tapi yang jelas terasa begitu kuat hingga rasanya jika terjebak maka selamanya ia akan tertahan.
"Jawab Shasyaa."
"Kamu aja belum jawab pertanyaan aku tadi, kenapa masih di sini?" Shasyania balik bertanya agar suasana tidak terasa hanya menghimpitnya sendiri.
"Nunggu seseorang buat diajak makan, belum makan, kan?"
"Aku? kalau aku udah makan tadi."
"Yaaah," ada raut kecewa tapi bukan berarti Nevan menyerah, "mhhh masih ada ruang gak? dessert maybe?" mencari celah, lebih tepatnya Nevan ingin memaksakan kehendak agar berjalan sesuai keinginannya.
"Mhh enggak, maaf Geonevan, aku mau pulang aja."
Deg!
Alis Nevan berkerut mendengar penolakan yang baru saja ia terima, Nevan tidak terbiasa dengan penolakan apalagi saat merasa dirinya bukan pilihan.
"Kita makan sekarang!" sisi dominannya muncul, Nevan membelokkan stir kemudi menuju salah satu tempat makan di kota J.
🍁🍁🍁
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.