Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Tanpa penjelasan lebih mendetail Jenni bisa menebak jika sesuatu tengah mengusik Nevan dengan berbagai macam spekulasi yang bersarang dalam pikiran laki-laki itu, alisnya yang selalu turun bersama tekukan kebingungan membuat Jenni semakin bertambah yakin jika ini bukanlah hal biasa.
"Ne___"
"Maaf Dokter Jenni karena saya menemui anda di luar jadwal kita."
Jenni segera menepis ungkapan Nevan barusan, "Ooh itu tidak masalah Nevan, memang tugas saya, saya memahami keadaan darurat bisa kapan saja muncul. Jadi, apa yang terjadi?" tanya Jenni memastikan.
Nevan memasukkan tangannya ke dalam tas lalu menyerahkan dua sapu tangan yang ia bawa untuk di perlihatkan pada wanita berseragam putih itu.
"Sama percis, apa ini istimewa?" tanya Jenni dengan ekspresi mencerna kemana arah dari maksud yang ingin Nevan sampaikan.
"Rajutan di ujung sapu tangan itu, inisal yang tertera di sana, itu dibuat khusus oleh Ibunya Shasyania."
Jenni menelisik kearah inisial yang dimaksud Nevan, "Daun semanggi empat, emhh makna yang bagus, itu berarti seseorang yang memberimu ini menginginkan kamu selalu memiliki keberuntungan, jadi siapa orang itu?"
"Yang satunya saya memintanya dari Shasyania kemarin, dan satunya lagi," Nevan sempat diam sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Itu barang yang pernah saya dapatkan sewaktu saya kecil, karena itu juga semalaman saya terus berpikir bagaimana kebetulan ini bisa terjadi, sampai saya mulai menyadari ada satu kenangan yang sempat saya lupakan."
Setiap jawaban seperti potongan puzzle acak yang harus disusun, Jenni memahami ini lebih dari apapun, "Baik, tapi... cobalah untuk tidak terlalu keras pada diri kamu Nevan, kamu bisa mencobanya perlahan. Karena terkadang otak kita perlu waktu untuk memproses sebuah informasi."
Jenni menyadari Nevan tampak sangat terpengaruh dengan isi pikirannya. Kenangan yang tidak pernah ia sangka datangnya membuat kerja otak laki-laki itu semakin meningkat, namun di keadaan ini yang pertama Jenni usahakan adalah agar Nevan tidak cemas apalagi sampai panik.
"Sudah lebih tenang?"
"Iyaa," jawab laki-laki itu setelah ia meneguk minuman yang di sediakan Jenni.
"Nevan, berhentilah ketika kamu merasa itu semakin rumit, bisa? karena kamu tidak akan pernah mendapatkan sebuah jawaban di saat kondisi mu sendiri terasa terjebak, kamu memahami apa yang saya maksud?"
"Iyaa Dokter, saya paham."
"Baiklah, jadi kenapa kemiripan dua benda ini bisa sampai membuat kamu gelisah?"
"Itu karena, sapu tangan pertama, barang itu saya dapatkan di rumah Ziaa, apa Dokter masih ingat cerita tentang kejadian sebelum saya pidah ke kota J, waktu saya berkunjung ke rumah Ziaa, di sana ternyata ada satu kejadian yang sempat saya lupakan, saya pernah bertemu dengan Paman Danes, Ayahnya Shasyania."
"Kamu yakin itu Ayahnya Shasyania?" Nevan mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Inisial yang dibuat khusus oleh ibunya Shasyania, dan kamu sempat bertemu ayahnya dulu, ini artinya dia yang memberimu sapu tangan itu, apa kamu memikirkan hal yang sama?"
Pandangan mata Nevan turun kebawah, ia seperti terus menggali ingatan yang masih terasa samar, ketika menyadari Nevan yang tidak langsung menjawab membuat Jenni mengarahkan laki-laki itu untuk kembali berimajinasi menempatkan diri berada di situasi tersebut, kata-kata yang Jenni ucapkan juga sukses membuat Nevan kembali mengenang rentetan kisah di masa lalu.
Flashback POV Nevan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.