Chapter 44 : Pesta

473 10 0
                                        

Masih di acara yang sama dentuman musik dansa mulai menggema. Suasana, alunan nada, bahkan kemeriahan itu membuat seorang Arsenio semakin percaya diri untuk terus mengutarakan keinginannya yang memang sedari dulu ia damba.

Tubuhnya condong mendekat kearah dua remaja di sampingnya, "Daripada kalian hanya berdiam saja bagaimana kalau kalian berdua lebih menikmati suasana, seperti berdansa contohnya? Itu pasti akan sangat menarik!"

Kata demi kata Arsenio lontarkan bersama pandangan mata penuh arti yang kini menatap kedua orang tua Nevan. Pria gempal itu jelas menginginkan sebuah dukungan, ambisinya membumbung tinggi bahkan tidak masalah jika harus mempertaruhkan harga diri.

"Nevan, ini acara Mommy," ucap Zivanna agar putranya lebih berbaur.

Gayung bersambut, Freya tidak ingin lagi membuang kesempatan hingga secepatnya menarik tangan Nevan menuntut laki-laki itu ke lantai dansa, ini kesempatan emas yang tidak mungkin ia lewatkan begitu saja.

"Mereka terlihat serasi, saya harap hubungan ini akan terus berlanjut sam__"

"Jangan terburu-buru Tuan Arsen, kami di sini selayaknya tuan rumah pada umunya, tidak sopan rasanya jika kami menolak! Tapi tentunya, tetap ada batasan yang harus dipahami!"

Datar namun terasa tajam, bahkan ucapan Deron sontak saja membuat Arsenio bergetar.

Jangan terlalu bangga diberi, tulus ataupun tidak seringkali formalitas yang menjadi pembungkusnya.

"Van, ini akan menjadi malam terbaik untuk gue!" Freya berseru, bersama pandangan mata yang terus saja mengunci memperhatikan wajah Nevan. Tangannya bergelayut manja ia ingin menikmati setiap momen yang pastinya akan sulit untuk terulang kembali.

"Berlebihan!" ucap Nevan saat tangan Freya berusaha untuk mengelus pipinya.

"Vaaan, come on, bisa enggak... sekaliii aaaaja lo menikmatinya? suasananya mendukung, kurang gue apasih, Van? kasih gue kesempatan, gue buktiin lo gak akan bisa melupakannya!" Freya begitu percaya diri, ia merasa bisa membuat Nevan terperangkap namun sayang seberapa keras pun ia mencoba laki-laki itu tetap saja tidak berselera.

Menyerah? tidak karena Freya kembali membuka suara di saat hening berusaha menghampiri mereka, "Kapan terakhir kali lo berdansa? Nevan, jawaaab," ujarnya manja.

"Gak usah banyak tanya!"

Getir, Freya tersenyum tipis ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Nevan, "Salah yaa, kalau gue nanya gitu? padahal tinggal jawab aja apa susahnya? Ayolah Van, kapan terakhir kali lo menikmati dansa seperti ini?" tanyanya, yang masih berusaha mendekat.

Diamnya Nevan justru semakin membuat Freya penasaran hingga tanpa sadar jika pertanyaan yang terus dilayangkan Freya perlahan memicu kenangan lama di relung hati Nevan, sampai tuas ingatan mengajaknya melayang pergi mengingat kembali serpihan kejadian di masa lampau.

Flashback on....

"Vanvan! hujannya reda, Ayoooo!"

"Jangan! nanti kamu sakit! tunggu sebentar, atau kamu pake ini yaaa?"

"Inikan baju kamu, Vanvan! bagaimana kalau kamu sakit? tidak aku tidak mau!"

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang