"Mau bilang tutup lagi?"
Seorang gadis merengut menggenggam ponsel yang menjadi jembatan komunikasi dirinya dengan seseorang dari seberang sana, hembusan nafasnya terdengar kecewa ketika menahan kesal di tambah apa yang diinginkannya kembali tidak ia dapatkan.
"Iya, Nona, tapi saya bisa carikan Nona jenis kue yang sama."
"Tidak perlu," tolaknya tegas karena yang ia cari bukanlah jenisnya melainkan rasa di mana perasaan itu memberinya kesan pulang pada tempat yang membuatnya nyaman.
Entah kenapa Bralinzhea mulai merasa apapun hal yang berhubungan dengan kerinduan di masa lalunya akan selalu menghilang, hal yang tidak hanya terjadi sekali, ini jelas membutanya curiga.
Di kala kekesalan masih menyelimuti dari arah belakang derap langkah mendekat terdengar.
"Selamat pagi, Nona, maaf menganggu waktu anda, izin memberi ini, Non," ucap seorang lainnya bersama kertas putih yang diserahkan.
Mata Bralinzhea melirik lembaran yang selama ini hanya ia baca lewat kiriman foto namun sekarang bisa ia pegang, setiap bulan surat itu rutin dikirim ke rumahnya sebagai bentuk balasan dari puluhan kertas yang ia kirim untuk seseorang yang begitu di rindukan.
Namun beribu sayang bak sebuah belati yang menyayat, ini lebih menyakitkan dari balasan sebelumnya, Bralinzhea kecewa, persaudaraan yang begitu berarti dalam hidupnya kini terasa semakin berjarak.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa harus selama ini?" gumamnya.
🍁🍁🍁
"Van, lo dimana? katanya udah jalan?"
"Sabar, gue masih di parkiran, lo sama Yeron pesen aja dulu, sekalian punya gue juga! nanti biar gue langsung makan!"
Tiga orang remaja membuat janji untuk ngopi bersama, namun untuk Nevan sendiri jalannya harus tersendat ketika mobil di depannya belum jua mundur hingga membuatnya menunggu untuk mendapat tempat bagi mobilnya.
Dan ketika celah itu datang kesialan justru hadir tanpa aba-aba karena sekarang sebuah mobil dari arah berlawanan justru masuk tanpa permisi, ia merebut tempat itu, terang saja Nevan tidak terima.
Tin!
Tin!
"Mundur! Ini tempat gue!"
Cklek!
Seseorang keluar, Nevan pikir orang itu laki-laki tapi dihadapannya justru seorang gadis sepantaran degannya lengkap dengan hoodie yang menutupi kepala.
"What's wrong with you? You're trippin!" ketus gadis itu.
Nevan mendengus, "What? get a grip! Follow the rules!"
Tidak mendapat respon gadis itu justru terlihat santai bahkan bersiap menjauh.
"Lo gak bisa main serobot gitu aja!" tegas Nevan kini ia ikut keluar dari dalam mobil, kerena mencari parkir di tempat ini memang terkenal sulit.
"I have no idea what you're saying! Just go away and do your own thing!"
"Gak ngerti bahasa lo?"
"Get out of my way, stranger!" ketus gadis itu, lalu setelah beberapa langkah ia kedapatan diam sambil menengok seperti mengingat sesuatu.
"Eldione?" ucapnya menunjuk Nevan, "benar, itu lo!" serunya.
Nevan mendesis, "Sok-sokan gak ngerti bahasa sendiri," sindirnya mengarah pada perdebatan mereka, gadis itu mengenalinya tapi siapa dia?
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomansDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)