Chapter 54 : Perlindungan

471 10 0
                                        

Srrrrrt!

"Ikat tangannya!" Perintah itu tercetus dengan nada yang begitu lantang.

"Kenapa? takut lo? ahahaha! Coba lari kayak waktu terakhir lo ketemu sama gue? Gak bisa?" bahkan tidak hanya mencela orang itu juga memegang dagu Shasyania yang kemudian bergerak mendorong pelan tubuh di depannya.

"Makannya kalau jadi orang jangan songong! mestinya lo tunduk, nyadar siapa lawan lo! Dan hari ini... lo benar-benar gak ketolong lagi, Shasyania!" Aleta mendekat, tatapannya nyalang menantang Shasyania untuk bereaksi atas ucapannya.

"Ahahaha cemen!"

Ketua geng Barbar itu merasa jika dirinya telah berada di atas angin, ia berhasil membawa Shasyania ke sebuah gedung kosong dengan bantuan empat lelaki, tawa Aleta menghiasi kesunyian malam itu ditambah lagi saat menyaksikan Shasyania hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mulut Shasyania di tutup lakban, tangannya di ikat kebelakang dan kedua bahunya pun di tekan di kedua sisi oleh pasukan Aleta hal itu membuat Shasyania tetap terduduk.

"Al, beneran dia bukan si itu?" kembali Panca bertanya, laki-laki itu tampak ragu, ia takut membayangkan bagaimana nasibnya jika harus berurusan dengan salah satu keluarga berpengaruh di negaranya.

"Ck! Itu mulu yang lo tanyain! Aman, lo gak denger gue nyebut nama dia siapa? Shasyania! bukan Ziaa! mereka beda orang!'

Arif mendekat memperhatikan lebih detail wajah korbannya, "Gue juga sempat berpikiran dia ini, Ziaa! Aahhh, kebaikan apaaaa yang gue lakuin sampai hari ini gue bisa bertemu dengan sosok yang gue idam-idamkan! Meskipun bukan, tapi wajah ini! ugghhh," Arif beralih menatap Aleta seperti meminta sesuatu.

"Sabaaaar! setelah gue puas, dia milik kalian, terserah mau diapain juga bebaaaaaas!" terang Aleta yang mendapat anggukan senang dari keempat teman lelakinya.

Ruangan pengap di sebuah bangunan terbengkalai, penerangan minim disanalah kelima orang itu berniat menjalankan misi mereka, Shasyania yang memiliki trauma di masa lalu seperti terpanggil kembali, tubuhnya bergetar namun semampunya bertahan untuk ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ruangan pengap di sebuah bangunan terbengkalai, penerangan minim disanalah kelima orang itu berniat menjalankan misi mereka, Shasyania yang memiliki trauma di masa lalu seperti terpanggil kembali, tubuhnya bergetar namun semampunya bertahan untuk mencari jalan keluar.

"Buka lakban nya, gue mau denger ini orang ngemis minta ampun! Ahahaha!" Perintah Aleta.

"Gilaaaa! cantik bener!" kembali Arif berseru, tangannya ingin meraih wajah Shasyania namun gadis itu berpaling kesamping itu tanda penolakan.

"Waaah, tapi gapapa! semakin di tolak maka gue semakin tertantang! Jadi gak sabar, ahaha!"

"Ini bibir udah pernah dicium belum?" yang lainnya ikut bertanya, namun tetap saja dari keempat laki-laki itu seorang Panca terlihat sangat ragu bahkan menarik tangan temannya yang berusaha menyentuh wajah Shasyania.

"Jangan!"

"Kenapa? Lo gak sabaran juga? santai, giliran lo nanti!"

"Eeettttsss gue duluan lah baru setelahnya kalian!" sergah Aleta, "gue mau bikin ini wajah gak berani lagi mendongak! Gak akan ada lagi kata sanjungan!"

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang