Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terik berawan mengundang sejuk, waktu yang awalnya terasa berat kini berlalu begitu saja hingga ayunan kaki memasuki sebuah tembok kokoh yang sering disebut sebagai perisai besi dari segala lara yang bertaburan tanpa permisi.
"Gimana Shaa hari pertama kamu di sekolah baru?" tanya Liliana, seraya membawakan segelas air dingin untuk putrinya.
"Sama saja Buk, sama-sama belajar," gurau Shasyania tangannya menerima apa yang ibunya berikan.
"Buk, Shasyania bisa loh ngambil sendiri, Ibuk gak perlu repot kayak gini."
"Hsstt, kamu kayak sama siapa aja, Shaa."
"Bukannya gitu, Buk."
"Shasya, selagi Ibu bisa, Ibu akan selalu melakukan apa yang Ibu suka, contohnya ya seperti ini menyiapkan sesuatu untuk putri Ibu sendiri, jadi... kamu tidak perlu merasa keberatan! dan bukannya Shasya sendiri yang bilang, kata kamu Ibu harus terus bahagia, yaa inilah kebahagiaan Ibu, nak," tutur Liliana, tangannya mencubit gemes pipi anaknya.
"Suka di sekolah barunya? Shasyania nyaman di sana?"
Shasyania meneguk air di dalam gelas sebelum menjawab pertanyaan Liliana, "Iya nyaman, mereka semua baik, Buk."
"Syukurlah, terus bagaimana dengan nak Nevan?" bukan tanpa sebab Liliana bertanya, ia teringat bagaimana reaksi dari laki-laki itu saat mereka berkunjung ke kediaman Eldione, Liliana hanya ingin memastikan.
Dan jika disuruh untuk menceritakan tentang perlakuan Nevan pada Shasyania maka tidak sedikitpun tersirat kebaikan di sana.
Bagi Shasyania hanya ada cacian makian dan tuduhan-tuduhan tidak mendasar, bahkan laki-laki itu tega membuat Shasyania hampir mendapat masalah di hari pertamanya bersekolah.
"Dia juga baik, Bu."
Namun pada akhirnya kalimat dusta lah yang terlontar dari dalam mulut Shasyania, bersama kepala menunduk seakan menghindar dari kontak mata dan meskipun Liliana tidak bersuara tapi wanita paruh baya itu bergerak mengusap pundak Shasyania, ia seakan mengerti tentang kegetiran yang terjadi.
Liliana jelas menangkap nada kebohongan dari mulut putrinya, namun wanita itu tidak mau memaksakan kehendak, karena ia sadar semuanya perlu waktu dan pembiasaan.
"Yasudah, kalau begitu Shasya mandi dulu sana, habis itu makan."
"Iya,Buk," belum sempat beranjak Shasyania kembali berbalik untuk sekedar bertanya, "Buk, hari ini ada banyak pesanan?"
"Lumayan, nak."
"Nanti Shasya bantu Ibu di toko yaa?"
"Tidak usah, Shaa, lagian hari ini Tuti udah mulai lagi bantuin ibu di toko, Shasya istirahat saja di rumah!" pinta Liliana ketika putrinya terus bersikeras membatu usaha kecil mereka, "oh iyaa, hampir saja ibu lupa. Itu tadi Anggi nelpon nanyain kamu."