"MENJAUH DARI HADAPAN GUE! SATU LANGKAH LAGI LO MENDEKAT GUE PASTIIN IBU LO YANG MENDERITA! LO PIKIR ANCAMAN GUE HANYA OMONG KOSONG? LIHAT ITU!"
"Ibuuuuuu! tidak, tidak! jangan! Jangan seperti ini, Geonevan!" sendunya, bersama tangan yang mengatup rapat.
"Aku mohon, lepaskan Ibuku, dia tidak bersalah, Geonevan! jangan libatkan dia, aku mohon!"
"Sudah terlambat, Shasyania! sangat-sangat terlambat! PARASIT!"
Suara bentakan yang di susul dengan dorongan tangan itu mengakibatkan tubuh Shasyania terhuyung ke bibir tebing, selayaknya dejavu, Shasyania seperti mengulang kejadian di masa lampau, badannya yang sudah condong kebelakang langsung terjerumus ke dasar jurang yang begitu gelap, sampai sebuah suara membuatnya terjaga.
BLARRR!
Seketika pasokan udara menipis, detak jantung berdenyut tidak menentu suara guntur itu menggelegar membuat Shasyania terbangun dari mimpi buruk yang sering hinggap menghantuinya disepanjang malam.
"Ahhh... ahh!"
Cukup lama untuknya menenangkan diri, mungkin segelas air akan membantunya lebih tenang lagi, namun ketika salah satu kaki Shasyania menjulur kebawah ia merasa ada yang berbeda, ubin kamarnya tidak lagi keras kini justru terasa hangat, sampai matanya membulat sempurna.
Deg!
"Geonevan...."
Sang empunya tubuh sadar jika namanya tengah di panggil, terlihat menggeliat memperbaiki posisi tidurnya.
Ya, laki-laki yang tadinya ada dalam mimpi Shasyania, laki-laki sama yang selalu tampak angkuh dan pemarah namun sekarang justru menjelma menjadi sosok yang begitu tenang dengan mata tertutup menikmati sisa malam. Nevan tertidur pulas di lantai kamar Shasyania.
"Kenapa dia di sini?"
Cukup lama Shasyania berkutat dengan segala kemungkinan yang ia pikir sampai dirinya menyadari ada pergerakan seekor nyamuk hinggap di kening Nevan, niat hati ingin mengusir namun Shasyania justru kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh menimpa Nevan.
Brugh!
"Ughh!"
Mendadak kelu, Shasyania diam tanpa kata, apalagi yang akan ia dengar dari kejadian ini? sebuah penghinaan kah tentang kwalitas dirinya? Sungguh Shasyania belum siap tapi Nevan telah memberi tanda jika ia akan terbangun.
"Habis sudah, aku!" batinnya.
Namun siapa sangka saat Shasyania masih berpura-pura tertidur, Nevan menggeser posisi tidurnya, menatap lekat sampai kedua tangan Nevan menyelip masuk ke area pinggang Shasyania, mengangkat gadis itu untuk kembali keatas kasur.
"Ada yang sakit?" tanya Nevan, suaranya khas bangun tidur, ia tahu Shasyania terjaga meskipun mata gadis itu tertutup akibat rasa malu.
"Hhm, eng..enggak," runtuh sudah drama yang coba Shasyania bangun sikap Nevan ini lebih membuatnya resah.
"Ohh," begitu tenang laki-laki itu menjawab padahal Shasyania merasa jantungnya hampir saja copot, "yaudah lanjut tidur lagi yaa, yang nyenyak," salah satu tangan Nevan bahkan mengusap lembut dahi Shasyania sebelum kembali rebahan di bawah sana.
Shasyania menggerutu menyalahkan diri, ia malu sampai sulit untuknya menelan ludah hingga tanpa terasa jarum jam terus berputar kearah kanan dan garis terminator telah menyusup mengubah gelap menjadi cahaya, pagi yang cerah Nevan awali di rumah Shasyania.
"Selamat pagi Tuan muda, saya datang membawakan semua keperluan anda."
"Dia, di mana?"
"Iyaa? oh maksud Tuan, Nona Shasyania?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomanceDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)