"Shaa, coba yang ini juga nak," seru Liliana dari arah dapur, wanita paruh baya itu tengah meracik varian baru untuk barang dagangannya.
"Iyaa Bu sebentar, Shasya ganti baju dulu," setelah keluar dari kamarnya Shasyania langsung menghampiri sang Ibu, ujung jarinya mencicipi adonan yang tengah di buat Liliana.
Mimik wajahnya menerka bersama lidah asik mengecap lalu garis wajahnya kembali menandakan ada yang salah dari racikan ibunya, "Bu, ini rasa asinnya kuat banget, adonannya juga terlalu lengket, rasa matchanya juga kurang berasa, aneh Bu," komentarnya jujur.
"Iyaa yaa, Shaa?"
"Iyaa Bu, umh menurut Shasya kayaknya gak perlu deh Ibu nambah rasa baru lagi, buat yang biasanya ibu buat aja, Bu."
"Tapi nak, banyak yang datang niat beli tapi nanyanya ada rasa macha tidak? ibu sama Tuti jadi berpikiran kenapa kita gak buat aja, karna bahasa kerennya ini di bilang lagi trend, jadinya ibu coba buat."
Di ruangan tiga meter persegi itu dua orang lintas generasi tengah sibuk dengan adonan mereka sampai sebuah ketukan dari arah luar terdengar nyaring yang membuat salah satu di antaranya beranjak menuju pintu.
"Biar Ibu aja yang bukain," ucap Liliana.
Saat pintu terbuka samar-samar Shasyania mendengar suara laki-laki yang tengah mengajak ibunya bicara, ada perasaan berdebar ketika mengira itu adalah Nevan, laki-laki yang beberapa jam lalu terlibat perselisihan dengannya hingga berujung Shasyania pulang tanpa mau diantar.
"Shaa, ada yang nyariin, sana temuin dulu."
Tanpa pikir panjang Shasyania mengangguk bersama senyum dikulum, ia mencuci tangan dan melangkah senang menuju pintu, di setiap langkah ia memikirkan tidak seharusnya ia marah seperti itu harusnya ia bisa lebih tenang reaksinya mungkin terlalu berlebihan, Shasyania ingin meminta maaf untuk apa yang sempat terjadi antara dia dan Nevan sampai pandangan itu bertemu pada sosok dihadapannya namun senyuman Shasyania justru memudar.
Deg!
"Gemmi!"
"Hei, iyaa ini gue Gemmi!" laki-laki itu berseru, tentu saja masih dengan ciri khasnya yang jahil tingkahnya selalu tengil, "buru-buru banget lo pulangnya tadi padahal ada yang mau gue bilang so__"
"Kok kamu bisa tahu rumah aku?"
Gemmi menaikkan sebelah alisnya, sambutan terlalu frontal, jelas terasa kurang mengenakkan.
"Baru rumah Shaa, kalau perlu yang lain juga bisa gue cari tahu!" ucapnya, "ini gue gak di suruh duduk dulu, nih?" tanyanya yang justru seperti meminta padahal dia tamunya.
Jelas sekali terasa setengah hati, Shasyania menunjuk kursi yang berada di luar rumahnya, "Yaudah duduk dulu, emangnya kamu mau ngomongin apa?"
"Shasyaa, buatin temennya minum nak," seru Liliana dari arah dalam.
Seperti siraman di atas pasir tandus, Gemmi tersenyum sembari menggerakkan jarinya agar Shasyania mengikuti keinginan ibunya, laki-laki itu menggejek seperti menikmati ketidak nyamanan Shasyania.
"Mau minum apa?"
"Vodka ada?"
Shasyania memicingkan mata, "Ck serius, Gemmi!"
"Tadi nanya, kalau gak ada jangan nawarin, yaudah gini aja bawa apapun yang ada, gue pasti minum!"
"Iyaa tunggu!"
Di ambang pintu saat Shasyania melangkah masuk Liliana muncul, wanita itu mendekat sembari membawa beberapa roti buatannya.
"Makan ini sambil ngobrol," tawar Liliana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomansaDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)