Chapter 76 : Kabar itu

109 3 0
                                        

Hari berlalu semua terasa baik meskipun kadang tidak selalu lancar namun pada akhirnya semua terlewati jua, dan pagi ini Shasyania bangun lebih pagi dari biasanya, lebih tepatnya sangat pagi hanya saja ketika ia mendengar suara-suara yang di pikirnya mungkin sang ibu tengah mempersiapkan bahan dagangan ia menunda untuk keluar masih satia di atas kasur sampai suara benturan cukup keras membuatnya terperanjat bangun, Shasyania bergegas mencari sumber suara.

"Bu, Ibu ngapain?" tanyanya sampai pandangan itu membulat sempurna.

"Kemasi barang kamu, nak!"

"Aah? Ibu kenapa? ada apa, Bu?"

Shasyania heran dengan apa yang ia lihat saat ini Liliana memasukkan asal semua pakaian ke dalam koper, untuk kedua kali Shasyania kembali menyaksikan bagaimana getir kepanikan kian tergambar jelas dari raut wajah sang ibu.

"Bu, ada apa, Buk?"

"Kemasi barangmu," tangan Liliana bergerak menggapai apapun yang ada di hadapannya lalu membuang asal benda itu jika di rasa kurang perlu.

"Buk... tunggu... tunggu dulu, Ibu tenang dulu ya Buu tenang dulu, tenang," Shasyania sampai bersimpuh bergegas memegang kedua pergelangan tangan ibunya,

Liliana menepis, "Shasyaaa! kamu denger perkataan Ibu, tidak?" nadanya meninggi, hal yang tidak pernah ia lakukan pada putrinya, terang saja reaksi tersebut membuat Shasyania mematung tidak percaya.

"Kemasi barangmu!"

Tidak dapat dibantah kembali Liliana memberi perintah, dia juga sibuk berjalan kesana kemari seperti orang kebingungan dan di titik dimana Shasyania masih mencerna gadis itu juga bergegas merangkul ibunya.

"Buu, katakan Bu, katakan kenapa? ada apa? jangan... Buuu. Tiba-tiba Ibu jadi seperti ini pasti ada alasannya, cerita dulu ke Shasyaa Bu, kita bicarakan dulu yaa, jangan seperti ini, Shasyaa mohon, Buu...."

Sepersekian detik pandangan Liliana tampak kosong lalu kegetiran kembali tersirat nyata saat air mata menjadi jawaban atas apa yang tengah ia rasa, Liliana mengusap wajah putrinya.

"I... ibu, Ibuu tadi...."

"Iyaa kenapa, Buu? mhh?"

"Mereka, mereka di sini, me... mere___" ucap Liliana megantung tubuhnya langsung luruh ke lantai lalu memegang pergelangan kaki Shasyania.

"Buuuu!" Shasyania yang tak kuasa melihat itu ikut duduk di bawah, ia memeluk erat ibunya, Shasyania menangis meskipun belum tahu jelas apa yang tengah terjadi.

"Shasyaaa... tidak nak, tidak, jangan! huhuhu, Shasyaaaaa."

Di keadaan ini Shasyania harus tetap tegar, ia memberi kekuatan dengan elusan pada punggung ibunya, ini bukan hal sepele hingga ucapan Liliana berikutnya terdengar lebih jelas untuk Shasyania pahami.

"Sekarang tanpa Ayahmu Ibu bingung, Ibu gak tahu Ibu harus berbuat apa, bagaimana, Shaa.... huhuhu! ta... tapi Ibu yakin jika Ayahmu di sini... dia juga akan melakukan hal yang sama, untuk kamu... putrinya, Ibu harus membawa putrinya, ja... jadi sekarang ayoo nak, kemasi barangmu, kita pergi dari sini," sendu Liliana.

Shasyania mengendurkan pelukannya untuk menatap Liliana, "Gak, Buu. Itu bukan jalan yang harus kita pilih, kita gak akan pergi ke mana-mana lagi, kita tetap di sini!"

Shasyania menggenggam erat jemari ibunya meyakinkan apa yang ia ucapkan barusan adalah keputusan yang paling tepat tapi itu justru membuat Liliana terkejut kepalanya menggeleng tanda tidak setuju.

"Shaaa...."

"Buu, ini gak benar, memangnya kita mau pergi kemana? pergi tanpa tujuan itu bukan pilihan terbaik!"

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang