Chapter 90 : Takdir dan kita

108 2 1
                                        

"Iyaaa sebentar, tunggu...."

Liliana berseru saat pintu rumahnya di ketuk, dan begitu terbuka pandangan matanya langsung bertemu dengan seorang wanita modis berambut panjang bergelombang stylish, gayanya begitu elegan dengan segala hiasan yang melekat pada tubuh.

"Umhhh, maaf... siapa, yaa? Apa ada yang bisa saya bantu?" pelan, lembut Liliana berucap ramah saat merasa dia tidak mengenal sosok didepannya.

Menyadari ketulusan Liliana membuat wanita itu tersenyum cerah, deretan giginya yang rapi terlihat menawan sembari menjulurkan tangan.

"Perkenalkan saya Zivanna, ibunya Geonevan," ucapnya.

"Loh, Ibunya Nak Nevan... ohhh maaf, seharusnya saya mengenali anda! Ma...mari, mari silahkan masuk."

Kecanggungan dari Liliana begitu terasa hingga Zivanna sigap merangkul wanita itu. Pertemuan pertama mereka tidak boleh berlangsung kaku.

"Bu Liliana, anda tidak perlu, loh sampai repot seperti ini," resah Zivanna.

Sedari tadi Liliana sibuk menyambut tamunya bahkan sekarang tidak butuh waktu lama meja persegi panjang diruang tamu miliknya telah berjejeran berbagi jenis cemilan ringan dan minuman segar.

"Tidak, ini tidak repot samasekali, saya senang jika Ibunya Nak Nevan nyaman di rumah saya, jadi ayo silahkan Bu, semoga rasanya cocok."

"Baiklah kalau begitu saya coba yaa, saya yakin pasti enak, baunya saja sudah ke cium. Ummm, tuh kan apa yang saya bilang, rasanya pas, gurih! Ibu makan juga, dong! masak saya sendirian, ayoo, Bu!"

Mereka berbincang santai di ruang tamu tersebut, saling melempar candaan sampai saat Liliana menanyakan sesuatu yang sebenarnya menjadi alasan kenapa Zivanna berkunjung kerumahnya.

"Bu, apa Nak Nevan bisa dihubungi? soalnya handphone Shasyania gak aktif, saya cuma mau menanyakan keadaannya di sana."

Zivanna mengernyit, "Bisa, tapi Nevan dia tidak sedang bersama Shasyania, Nevan bersama Kakeknya, justru saya kemarin ingin bertemu dengan Shasyania."

Deg!

Peluh dingin langsung terlihat di dahi Liliana, Zivanna yang menyadari itu langsung bergerak mendekat duduk di samping calon besannya dan berusaha untuk menenangkan.

"Ada apa, Bu? anda baik-baik saja?" sesuatu tengah terjadi dan Zivanna harus segera mengetahuinya.

"Bagaimana ini? padahal perasaan saya sudah tidak enak dari kemarin, tapi saat memikirkan bahwa Nak Nevan juga ikut dalam acara kemah itu rasa khawatir saya jadi berkurang, tapi sekarang," Liliana mengusap-usap wajahnya gusar, ia takut bercampur resah.

"Acara kemah, di mana?"

"Di kota B, daerah gunung X," ucap Liliana, "tempat itu terlalu berbahaya untuk Shasyania!"

Ekspresi takut Liliana membuat Zivanna semakin percaya jika dugaannya tentang Shasyania adalah fakta yang sebenarnya, ini saatnya Zivanna mengulik semua secara tuntas.

"Bu, apa tempat itu, tempat dimana Shasyania pernah hilang dulu?"

Liliana menatap Zivanna, ada raut penuh arti yang tergambar diwajahnya, "Bagiamana Bu Zivanna bisa tahu? umhh maksud saya umhh, saya hanya khawatir karena ini pertama kalinya Shasyania ikut acara kemah apalagi itu di luar kota."

Di saat Liliana berusaha mengelak Zivanna kembali mencecarnya dengan segala perkataan yang membuat Liliana semakin terpojok.

"Bu, sekarang kita adalah keluarga, Ibu bisa jujur sama saya, karena sudah terlanjur jadi saya akan langsung pada intinya, saya juga tahu... Danes, suami Ibu, beliau bekerja dengan keluarga kami itu bukan semata-mata karena uang tapi lebih dari apapun, itu tentang keselamatan Shasyania, apa ucapan saya salah?" tanyanya menantang yang hanya dijawab ekspresi diam tanpa sepatah kata dari Liliana.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang