"Line! sampai kapan lo mau diem terus kayak orang bego!"
Terhitung tiga puluh menit sudah Marline hanya menyalahkan diri, dia mendadak pesimis dengan segala hal dalam dirinya.
"Yaaa, coba lu pikir ajaaa sendiri, bisa-bisanya gueh mau jadiin mantu dari bos kita sebagai batu pijakan! Omg, huhuhu! Mir, tips nyakitin diri tanpa dozah apa, yah?"
"Heh! jangan sembarang kalau ngomong! Lo mau tinggalin karir lo gitu aja!"
"Ehh, bicara karir yang mana luuu? Marline Boza udah di ujung tanduk, gueeeh udah di end of era!"
Tak!
Mirna hilang kata untuk menanggapi Marline yang selayaknya batang kayu tanpa penyangga, hingga seseorang lainnya memasuki ruangan tersebut dan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Marline, lo di panggil ke ruangan Mrs Zivanna."
Deg!
Marline berdiri, karena hanya itu yang mampu dilakukan olehnya meskipun dalam pikiran kalut yang terus bergelayut ia tetap mencoba profesional tapi apa daya baru tiga langkah berjalan tubuh itu telah luruh ke bawah.
"MARLINE!" sentak Mirna, ia khawatir dengan kondisi rekannya, tangannya bergerak cepat mengecek keadaan Marline.
"Tenang, gueh gak pingsan, kok, Mir," ucapnya lemas, bahkan di ujung kalimat sempat-sempatnya tersenyum dan berkata, "ternyata omongan lu bener, gueh manusia lunglai yang bertulang lunak, buktinya sekarang gue jatuh, ahaha!"
"ASTAGAAAA!"
Kesabaran Mirna telah di ambang batas ia langsung memapah tubuh yang jauh lebih kurus darinya itu untuk menuju ke lantai tiga.
"Mir!"
"Diem, lo!"
"Dengerin dulu omongan gueh ini baik-baik!"
"Apaan?"
"Lu tahukan di ruang kerja gueh ada kotak hitam, nah pake otak lu sekarang, sandinya tiga lima tiga lima satu. Gue harap lu lanjutin semua rencana gue, setuju?"
"Ck, berisik! gak usah ngasih gue dialog drama! semua pasti baik-baik aja!" tegas Mirna yang tanpa aba-aba sudah mendorong tubuh Marline dari belakang hingga membuatnya langsung memasuki ruangan petinggi perusahaan tersebut.
Srrrr!
Mulut Marline bergetar, Mirna sungguh tidak berperasaan, harusnya dia memberi waktu untuk menarik nafas namun sekarang sudah terlanjur karena Marline telah menatap punggung Zivanna yang terlihat membelakanginya.
"Silahkan duduk, Marline."
"Iiii...iya, te...terimakasih, Mrs Zivanna."
"Sudah berapa lama Shasyania berkerja di sini?"
Langsung ke inti tanpa jeda ataupun sekedar basa-basi sebagai pembuka, Zivanna jarang memanggil seseorang ke ruangannya dan jika itu terjadi berati ada hal penting yang harus segera mendapat jawaban.
"Itu, sekitar... emhh, kurang lebih lima bulan yang lalu, Mrs Zivanna," jawab Marline yang terus berusaha untuk menetralkan diri agar lebih tenang.
"Apa ini atas permintaan kamu?" pertanyaan Zivanna jelas mengarah pada hasil foto yang tengah ia perlihatkan, di mana gadis itu hanya menjadi model pakaian tanpa memperlihatkan wajah.
"Kalau itu, Shasyania sendiri yang memintanya, Mrs Zivanna."
"Marline?"
"Iyaa, sa...saya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
Storie d'amoreDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)