"Bagaimana?"
"Masih sama Nona, kami masih belum bisa mencari detail bagaimana itu bisa terjadi dan akses kami semakin terbatas karena untuk saat ini pergerakan kita semakin diawasi."
Bralinzea mengangguk karena ia juga memahami kondisi yang tengah terjadi kecurigaannya semakin ketara tatkala menyadari jika orang-orang dari keluarganya ikut andil untuk menutupi sesuatu, akses yang terbatas dan perubahan sikap Papinya yang tiba-tiba mendukung Ziaa berpergian keluar negeri, ada sesuatu yang dijauhkan darinya, sebuah fakta yang berusaha untuk disembunyikan.
Ziaa juga tidak bisa memaksa karena itu bisa memperkeruh suasana hingga dia memilih untuk bersabar, tiga bulan lamanya dia kembali menjauhkan diri tapi tentunya dengan strategi yang selalu ia pantau perkembangannya sampai keadaan mulai tenang dan secercah harapan datang maka saat itulah ia akan pulang.
Dan di sisi lain selepas pertemuan tidak terduga dengan orang-orang di masa lalunya Shasyania berfirasat cepat atau lambat hadirnya akan dicari terbukti saat sebuah pesan masuk meminta Shasyania untuk bertemu dengan salah seorang di sebuah restoran gadis itu langsung menyanggupi tanpa bertanya hingga disinilah dia sekarang duduk di ruangan VIP menunggu si pengundang datang.
Srrrrrt!
"Maaf membuatmu menunggu."
Pintu terbuka memperlihatkan sosok pria dengan wajah yang tegas, matanya menatap lekat kearah Shasyania lalu langkah kaki itu mendekat ke meja yang membuat Shasyania sejenak menunduk sebagai tanda jika ia memiliki rasa hormat untuk orang tersebut.
"Kenapa belum memesan?" tanya pria itu, "pilih saja apapun yang kamu suka."
"Terimakasih, Tuan."
Deg!
Seperti tersengat rasanya pupil mata Jazlan ikut melebar, entah kenapa sebutan tuan dari Shasyania begitu mempengaruhi ekspresi wajahnya.
Karena jauh di lubuk hati terdalam ada perasaan bersalah ketika mengingat dulu dia pernah mengabaikan keselamatan Shasyania dan sekarang saat melihat bagaimana gadis itu tumbuh Jazlan merasa lega terlebih lagi ketika dirinya mengetahui prestasi Shasyania, Jazlan turut bangga meskipun rasa itu tersimpan tanpa ada yang mengetahui.
"Shee___"
"Sekarang nama saya Shasyania, Tuan," potong Shasyania yang membuat Jazlan meraih gelas berisi minuman di depannya, meneguknya sedikit sebelum kembali bertanya.
Jazlan tersenyum, "Nama yang bagus," pujinya, "bagaimana kabar kedua orangtuamu, Shasyania?"
Kini giliran gadis itu yang terdiam, ini tidak boleh berlangsung lama jika tidak pasti nantinya Jazlan akan mengorek informasi tentang keluarganya.
"Baik," lugas Shasyania, "apa yang ingin Tuan pastikan sampai meminta saya datang ke sini, waktu Tuan terlalu berharga untuk membahas hal lain jadi baiknya langsung saja."
Jazlan terkesan, "Kamu sempat bertemu dengan Ziaa?"
"Tidak, lagian tidak ada alasan juga untuk kami bertemu."
Shasyania berdusta ia menutupi pertemuan tiga bulan lalu bersama Ziaa rasanya ia tidak perlu mengatakan hal tersebut toh juga itu bukan pertemuan yang disengaja.
"Kalian memang tidak perlu bertemu bukan karena Om takut kamu mempengaruhinya hanya saja itulah yang terbaik diantara kalian berdua! Tetaplah menjaga jarak!" Jazlan tegas mengatakan hal tersebut yang kemudian ditanggapi senyuman oleh Shasyania.
"Tentu, dan saya harap ini adalah kesepakatan yang akan kita pegang bersama seperti yang Tuan minta maka saya juga berharap Tuan tidak lagi mengusik keluarga saya, kita sama-sama berada di sebuah wilayah untuk tidak melewati batasan masing-masing!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
Roman d'amourDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)