"Van!"
"Lo ulang sekali lagi, gue lempar lo keluar!"
Orang yang di gertak langsung memasang wajah cemberut tangannya menyilang ketika ia tidak terima saat seringkali diabaikan.
"Asliiiii ini si Yeron kapan balik sekolah, sih! bosen banget gue gak ada temen haha hihi!" sungut Dariel dialah si tersangka yang berkamuflase menjadi korban padahal sedari awal dia sendiri yang terus mengusik Nevan agar menggubrisnya.
"Van, gu__"
"Diem!"
"Astaga ini orang, aaah!" sungut Dariel, "lo kenapa, Van? makin kaku aja hidup lo!"
Kembali tidak mendapat respon hingga membuat Dariel mengambil kertas lalu merobek asal dan memasukan remasan itu ke dalam mulut itu dilakukan sebagai bentuk protes atas sikap Nevan padanya.
"Selera lo berubah lagi, Riel? mau gue beliin sesuatu?" Neita yang baru saja datang dari kantin langsung bertegur sapa, aksinya sukses membuat dua orang di sampingnya mengernyit heran, sebelum akhirnya Ririn paham akan sikap tersebut.
"Loh Dariel daripada lo nyemil kertas nih kebetulan gue punya roti lebih, makan aja," Ririn ikut nimbrung meksipun jujur ini merupakan hal yang jarang ia lakukan tapi untuk kali ini ia akan berusaha, demi satu misi yang ia sepakati bersama Neita.
"Kesambet apa lo berdua, tiba-tiba baik banget sama gue! Udah, jangan bikin bulu kuduk gue berdiri!" cela Dariel, tapi percayalah orang yang di pedulikan seringkali bukanlah target sesungguhnya.
"Sialan! lo kira gue hantu, apa?" niat hati lebih mendekat namun segera diurungkan saat Neita tanpa sengaja melirik gestur Nevan. Ini seperti kartu kuning dalam sebuah permainan.
"Yeron belum masuk? bukannya dia udah pulang dari rumah sakit?" Ririn langsung mengubah topik mereka, dia menyadari keadaan Neita.
"Udah kemarin," jawab Dariel, "kenapa lo nanya dia, kangen lo yaa? awas si Andri marah entar lo di pecat lagi jadi wakilnya ahaha, mau lo?!" seringai mengejek muncul ketika Dariel mengutarakan kalimat terakhir.
"Apaan, sih!"
"Aphaaan shiiiih!" ulangnya dengan nada bercanda.
Habis sudah basa-basi yang ingin mereka bangun, usaha mendekatkan Shasyania dengan Nevan memang tidak mudah namun bukan berarti harus menyerah. Neita dan Ririn berjuang meskipun rasa malu menjadi taruhannya.
"Kalian mau tetep di sini? kalau iya aku duluan," pamit Shasyania, karena di menit awal ia seperti sosok yang tidak terlihat yang kini memilih untuk menjauh.
"Esssst, tunggu! ngapain duduk di sana mending kita gabung di sini? iya gak, Rin?"
"Eemh, iyaa betul itu! sebagai murid teladan kita harus saling sapa menyapa jangan memilih teman, bila perlu tiap hari ngobrol sebentar buat jaga silahturahmi! Gak lucu kalau kita sampai lupa nama temen sekelas! Wah ini bisa masuk dalam agend___" menggantung, Ririn tidak lagi melanjutkan ucapannya saat ia yakin Nevan sempat menatapnya risih.
Mampus!
Aliran darahnya berhenti memompa seluruh sendinya kaku tapi inilah resiko yang harus di terima ketika ia ingin membantu percintaan Shasyania dengan laki-laki minim sosialisasi karena fakta yang harus di catat tidak semua orang bisa akrab dengan sosok Geonevan, tapi kalau tidak dicoba mana tahu, Ririn dan juga Neita ingin membalas kebaikan Shasyania yang sering membantunya dalam hal nilai, ini perjuangan setimpal.
"Geonevan, boleh duduk sebelah lo, gak?"
Neita mengarahkan Shasyania duduk di sebelah Nevan bahkan kedua bahu Shasyania di pegang agar gadis itu tidak memiliki ruang untuknya beranjak, Ririn pun gesit menggeser kursi menutup akses Shasyania.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomansaDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)