"Mobil tua! Lo berani jadiin itu sebagai taruhannya?"
Aku sudah mengira jika pasti mobil itulah yang menjadi incaran Guilio, untuk urusan car guy dia memang ahlinya.
Bahkan liat saja belum menang tapi dia sudah seperti pemilik, Guilio masuk ke dalam mobil berlagak sedang menyetir, dia begitu yakin senyumnya sumringah menatap ke arahku.
"Tuan, apa malam ini anda ingin keluar?"
Saat aku menoleh pria lengkap dengan setelan hitam telah berada disampingku, dia salah satu pekerja yang cukup intens bersamaku akhir-akhir ini, bahkan untuknya aku seperti memiliki rasa hormat.
"Tidak Paman, hari ini Paman bisa pulang cepat!"
Entah karena ucapanku yang terlalu bersemangat atau karena raut bahagia yang tidak bisa disembunyikan hingga Paman Danes mendekat lalu berbisik.
"Apa Tuan sudah menemukannya?"
Saking akrabnya bahkan dia bisa menebak, beberapa hal juga memang sempat aku ceritakan pada Paman Danes, dia satu-satunya orang yang dengan mudah aku terima meskipun kami tidak memiliki hubungan darah.
Terhitung sudah tiga tahun lamanya dia bekerja dengan Kakek, hal pertama saat melihat Paman Danes adalah aku seperti pernah bertemu dengannya tapi dimana? bahkan saat aku menanyakan hal tersebut pada Paman Danes dia mengatakan kami tidak pernah bertemu sebelumnya.
Mungkin karena perasaanku yang mudah menerimanya sampai-sampai membuatku seperti mengenal tapi bukankah setiap orang pernah merasakan hal tersebut? jadi aku menganggapnya wajar.
🍁🍁🍁
Dini hari alarm belum berbunyi tapi mataku sudah terbuka seakan enggan untuk melanjutkan tidur, lebih pagi dari biasanya aku telah bergegas untuk keluar, bukan untuk sekolah melainkan untuk bertemu dengan Shasyania di alun-alun kota. Jika boleh sombong itu karena aku merupakan sosok penting yakni seorang donatur bagi acara mereka, jadi aku telah mengetahui jadwal pasti kapan mereka di sana.
Persiapan matang tapi di tengah jalan aku mulai berpikir jika aku datang dengan tampilan ini bukanlah itu terlalu berlebihan?
Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah aku juga harus membuktikan jika ucapan Guilio salah, maka dengan kecepatan kilat aku mulai menyusun rencana. Aku melihat seseorang berpakaian badut maka tanpa pikir panjang aku langsung membeli kostum tersebut, rencana awalku ingin mengetahui kepribadian Shasyania dengan menjadi sosok badut di sekitarannya.
"Nama kamu siapa? dari tadi kok diem aja?"
Sial aku tidak bisa menjawab, terlalu bingung rasanya, ini pertamakali ada yang membuatku mati gaya, aku terhipnotis hanya karena dia berada di depanku.
"Sini duduk, gabung sama kita, kebetulan nasinya lebih. Ayo makan bareng."
Berdebar rasanya setiap mendengar suara Shasyania, aku layaknya sebatang kayu yang tertancap di tanah perasaan sulit untuk dijelaskan ketika bersama Shasyania, bahkan saat beberapa temannya menyuruhku pergi aku masih diam tidak menanggapi, dan lucunya lagi sikap diam tanpa responku ini justru di anggap sebagai kekurangan jika aku seorang badut yang bisu.
"Tidak apa-apa, Nevan, ini namanya perjuangan!" lirihku.
Menyaksikan mereka makan sebenarnya aku juga lapar tapi tidak mungkin jika aku harus membuka topeng badut ini, maka dengan gerakan yang aku buat sendiri aku mengisyaratkan pada Shasyania jikalau aku tengah mendapat panggilan alam yang harus segera dituntaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomanceDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)