Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Shasyania, dia takut bahkan sampai bergetar tapi ketika dia memiliki kesempatan maka gadis itu akan pergi, seperti yang dilakukannya saat melihat geng Trigger sibuk mencari smartphone milik Javier, kelengahan itu pula yang dimanfaatkan oleh gadis itu.
Langkahnya mengendap bersembunyi di salah satu pohon besar yang berada di belakang sana karena Shasyania tahu jika ia langsung pergi menuju arah tenda maka sudah dipastikan ia akan terlebih dahulu tertangkap oleh tiga orang anggota geng Trigger yang masih berjaga di depan, maka dari itu ini adalah keputusan yang tepat.
"Hei...."
"Kamu di mana? jangan sembunyi terlalu jauh! aku jagonya main petak umpet!"
"Aku pasti akan menemukanmu!"
"La Belle...."
Degup yang awalnya menyimpan ketakutan kini perlahan berubah menjadi perasaan rindu yang sulit untuk di jelaskan, tempat ini kembali menarik rasa itu untuk muncul kepermukaan.
"Daaaar! aku bilang juga apa... aku menemukanmu, ahahaha!"
"Ini menyenangkan, bukan?"
Tempat dimana Shasyania tidak pernah diberi izin untuknya kembali, tempat yang sebenarnya ingin sekali ia kunjungi namun selalu ditentang oleh kedua orang tuanya, dan kini saat ia kembali menginjakan kaki di wilayah gunung X, seakansuasana dan segala isinya seperti memanggil Shasyania, bayangan itu terlintas nyata bersama suara lembut yang pernah ia dengar dulunya.
"Jangan takut, aku di sini, kita tidak mungkin tersesat, percaya sama aku! Aku si tampan penjelajah hutan!"
Sepenggal kisah lalu yang sekarang seperti sebuah layar di depan mata, Shasyania seperti orang ketiga saat menyaksikan bagaimana versi kecilnya tengah bermain dengan seseorang lainnya di rimbunnya hutan belantara.
"Aku punya sesuatu untuk kamu, tadaaaaaaa...."
Tak ingin bayangan itu menghilang hingga tanpa sadar Shasyania terus melangkahkan kaki mengikuti bayangan tersebut lebih jauh, ia tersenyum mengingat semuanya tapi peristiwa di akhir pertemuan mereka juga terlintas di depannya.
"BUNUH BOCAH SIALAN ITU!"
"Tidak, jangan... jangan!"
Shasyania berseru dari jarak yang cukup dekat, bayangan itu tidak dapat di sentuh peristiwa di masa lalunya pun tidak bisa diubah hingga suara pistol itu kembali ia kenang.
Shasyania menjerit dengan keadaan bersimpuh, tangannya menjulur seperti ingin menghadang, bayangan tadi telah menghilang meninggalkan dirinya dalam kegetiran.
"Huhuhu, maafkan aku, Vanvan, karena aku, huhuhu, Vanvan."
Sosok Vanvan terbunuh itulah yang Shasyania pikirkan, jejaknya yang seketika hilang membuat asumsi tersebut menjadi sebuah kebenaran yang harus ia terima.
"Vanvan... aku kembali, aku kembali ke tempat ini."
Cukup lama Shasyania bergelut dalam tangisan hingga kedua mata itu menatap sekitar. Ia sudah terlalu jauh berjalan tapi bukannya takut Shasyania justru merasa lega, ini seperti penyembuhan bagi lukanya, dan ketika ia menyadari sebuah bangunan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berpijak, gadis itu mulai melangkah. Sebuah bangunan lama yang tentunya tidak asing untuknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.