Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Tepat seminggu setelah pesta, kini kondisi cuaca di Kota J sering kali turun hujan dan di kondisi itu pula para murid hanya bisa menjalankan aktivitas mereka di dalam ruangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Woi! jangan coret semuanya, nj.r!"
Seperti biasa tidak lengkap rasanya kalau suasana kelas sunyi, suara Gemmi terus terdengar saat melayangkan protes pada orang-orang yang asik menggambar pola abstrak di gips tangannya, semacam tradisi yang di balut dengan kata seni.
"Gem, dia gambar tit.t! kocak!" jerit Jeki, hingga Gemmi memicingkan matanya bersama amarah yang siap meledak pada Wilkan yang masih terlihat menunduk bersama tangan asik bergerak membuat pola.
"Sembarangan lo, Jek! Pikiran gue masih jernih gak kayak lo, kali!" Wilkan berbalik menyerang, ia sampai menunda kegiatannya hanya untuk sekedar melayangkan bogem mentah pada si penuduh.
Plak!
"Sakit anj.r! gue cuma nebak tadi! Gambar lo kurang jelas, sih!"
"Emang dasar lo nya aja yang ngeres!"
"Udah buru! gue mau makan!" cetus Gemmi engan untuk ikut dalam perdebatan sahabatnya.
"Bentar, Gem! sabar boussskuuuuh!"
Dibalik kesibukan tiga serangkai tersebut ada seorang siswi yang tertarik untuk menyalurkan bakatnya, ia berusaha mendekatkan diri.
"Hem!" percobaan pertama gagal, "heeeeem!" ulangnya agar segera di notice.
"Amandel lo?" tuduh Gemmi.
"Dih, ck! gue ikut gambar, ya?" pintanya, bahkan sebelum ia mendapat izin gadis itu sudah memegangi beberapa spidol berwarna.
"Mau gambar apa lo? padi? Ogah! gak mau gue bawa coretan anak SD!"
"Belum juga liat, udah pesimis aja lo!"
"Wajar! gak ada positif di diri lo, Nit! Kecuali... ahahah!"
"Lanjutin gak? jangan ketawa dulu! heiii!'' Neita berseru, sangat kesal rasanya saat dijadikan bahan tertawaan apalagi dibarengi tatapan penuh rahasia.
"Shaaa, liat tuh! mereka ngetawain gue!"
"Ketawain balik, Nit, biar sama-sama ketawa!" saran dari Shasyania membuat Neita mengerucutkan bibirnya. Dia ingin dukungan tapi harapannya harus sirna ketika Shasyania membahas topik lain.
"Besok-besok kalau kalian makan kuaci sampahnya jangan di buang sembarangan, taruh di plastik! kotir tahu!" tegur Shasyania saat mendapati bangkunya berserakan sampah yang dihasilkan oleh Gemmi cs.
"Kotor, Shaa, bukan kotir," sela Wilkan meralat.
"Iya maksud aku itudah."
"Iya maaf maaf, sini biar gue bantu," tawar Gemmi, tangannya berusaha menjangkau kulit kuaci di meja Shasyania.