Chapter 05 : Mainan?

1.4K 31 0
                                        

"Nevan, Mommy rasa untuk sementara ini kamu turuti saja keinginan Kakekmu, kita perlu mencairkan suasana hatinya dulu dan nanti setelah semuanya membaik, maka saat itulah kita pikirkan lagi cara untuk membuatmu terlepas dari perjodohan itu, mhh?" bujuk Zivanna, ia merasa tidak tega saat melihat putranya seakan tertekan dalam keadaan seperti ini.

"Big no! lebih baik kita keluar saja dari sini, lagian Mommy punya beberapa aset, kan? aku rasa kita masih bisa mencukupi hidup dengan itu, dan Daddy, Daddy juga bisa mendirikan perusahaan baru, jadi... kita tidak perlu menuruti kemauan Kakek yang tidak masuk akal itu!"

Deron yang mendengar ucapan putranya langsung mendekat, ia ingin memberi pengertian agar Nevan mengerti situasi mereka.

"Tidak semudah itu Nevan."

"Why?"

"Apa kamu tahu? semua aset yang kita miliki, semua itu berada dalam naungan Dione crop, jadi sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menuruti kemauan Kakek. Kakekmu memiliki peranan penting dalam dunia bisnis ini, menentangnya sama halnya seperti mencari solusi tanpa kepastian, kita pasti kalah."

"Semuanya?" bersama ekspresi penuh tanya Nevan mengulang pertanyaan tersebut, dan anggukan kepala dari sang ayah membuatnya memalingkan wajah untuk sekedar menghirup oksigen yang terasa semakin menipis.

Bahkan mulutnya terlihat terbuka lalu kembali menutup, tidak ada lagi kata terucap namun ekspresi wajahnya sudah jelas menggambarkan raut kekecewaan.

Kenyataan itu benar-benar menghancurkan secercah harapan di hatinya seperti hangus dan berubah menjadi uap panas yang ia keluarkan dari hembusan nafas.

"Haaaahh!"

Pun kepalanya semakin berdenyut memikirkan solusi, jika ia memilih pergi tanpa pegangan, maka itu sama saja seperti menjatuhkan harga dirinya.

"Mereka seperti bencana tapi tidak akan kubiarkan begitu saja!" ketusnya tajam.

"Tenangkan dirimu, Nevan! jangan berbuat yang tidak-tidak! biarkan Daddy yang mengurus! Kamu cukup diam!"

"Iya sayang, Daddy mu benar, kamu tidak perlu memikirkannya lagi, biarkan itu menjadi urusan kami!"

"Tapi Mom, dia mempermainkan ku! Dia meremehkan ku! itu tidak bisa aku biarkan!"

"Nevan tenang! Percaya sama Daddy! tidak akan Daddy biarkan orang memaksamu dalam urusan seperti ini! Jadi tenanglah."

"Baiklah!" jawabnya singkat seraya beranjak menuju kamar tapi bukan berarti sepenuhnya setuju apalagi ketika sesuatu itu sudah berhasil menyulut emosinya.

"Shasyania, aku menyesal sangat menyesal! kau berani mengusik keluargaku, tunggu saja!"

Nevan menaiki anak tangga dengan perasaan kesal, di kepalanya terus terlintas berbagai macam rencana untuk menghancurkan Shasyania hingga sebuah seringai menakutkan terlihat dari wajahnya.

Cinta seringkali membuat tergila-gila tapi bukan berarti cinta selalu menang dari rasa ego

🍁🍁🍁

Angin berhembus dari arah tak menentu hingga perlahan memasuki celah kamar yang terlihat terbuka di sudut dinding berwarna abu.

"Shaa, tidur nak, kamu enggak capek apa dari tadi pijitin Ibu terus?"

Shasyania hanya tersenyum saat ibunya memaksanya untuk segera tidur, "Obatnya sudah Ibu minum? jangan tunggu sakit Buk, ingat pesan Dokter."

"Sudah Shasyaa, dan kamu, jangan hanya memikirkan kesehatan Ibumu, pikirkan juga kesehatanmu, Nak! kamu tidak boleh terlalu memaksakan diri, itu tidak baik!" sorot matanya teduh, sembari mengelus pucuk kepala anaknya, "dan sekarang giliran Shasya yang jujur ke Ibu, ada yang Shasya pikirkan, tentang perjodohan itu? Atau tentang reaksi cucunya Tuan Toreno?"

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang