Chapter 84 : Posisi

103 4 0
                                        

Menunggu akan terasa lebih mendebarkan ketika sesuatu itu telah mengusik pikiran. Nevan tampak tidak sabar meskipun sebagian besar pertanyaan dalam benaknya telah terjawab, namun ada hal penting lainnya yang perlu diperjelas. Tentang kaitan yang begitu ketara yang harus segera ia selesaikan.

"Tuan, apa anda ingin sesuatu?" tanya seorang pelayan saat menghampiri Nevan di ruang tamu.

"Tidak ada."

Singkat itulah jawaban dari Nevan, matanya terus melihat kearah jam tangan, tidak ada hal yang akan membuatnya tertarik kecuali kehadiran Toreno sang Kekek bahkan setiap kali terdengar derap kaki mendekat Nevan langsung menengok tajam, lalu menghembuskan nafas resah ketika yang datang bukanlah orang yang ditunggu, sampai berpuluh-puluh menit kemudian.

"Nevan?"

"Kek, aku ingin bicara!"

"Ini sudah larut malam, besok saja kita bicarakan, Nevan."

"Kek."

Menyadari Nevan yang begitu kekeh membuat Toreno akhirnya mengangguk, meskipun sempat heran tapi pada akhirnya Toreno mengarahkan cucunya menuju ruang baca.

"Baiklah jadi, apa yang ingin kamu tanyakan sampai membuatmu harus menunggu Kakek hingga melewatkan jam tidurmu?"

"Ini soal Ayahnya, Shasyania."

Baru empat kata ekspresi Toreno langsung berubah, ia menebak inilah hasil dari beberapakali cucunya memiliki temu janji dengan seorang Dokter Psikolog yang sudah ia ketahui identitasnya. Toreno akan selalu mengawasi gerak-gerik pewaris tunggalnya.

"Aku harap Kakek jujur, tidak menyembunyikan apapun dariku."

"Katakan!" tegas Toreno nada bicaranya berubah.

"Apa alasan Kakek menerima Paman Danes untuk bekerja di sini? karena setahuku, Kakek tidak mungkin menerima seseorang yang pernah bekerja dengan keluarga Zeicqueen."

Memang benar perkataan Nevan barusan, karena bagi kedua pihak itu berlaku sama, menerima mantan pekerja dari masing-masing pihak bukanlah hal yang akan mereka lakukan, ini seperti mencoret rivalitas putih diantara dua kubu.

"Aku yakin Kakek tidak mungkin menerimanya kecuali Kakek tahu alasan kuat dibalik mengapa Paman Danes tidak lagi bekerja dengan keluarga Zeicqueen. Apa itu, Kek? kenapa Kakek mau membantunya? apa mungkin ada sesuatu yang menguntungkan dari Paman Danes? atau ini hanya karena Kakek merasa dia dan keluarganya memang perlu di bantu? Tolong jawab, Kek!"

Toreno semakin menegakkan posisi duduknya saat menyambut pertanyaan beruntung dari Nevan.

"Dengarkan ini baik-baik Geonevan, cucuku!"

Deg!

Mungkinkah Nevan salah ucap? Aura dari dalam diri Toreno semakin pekat mencekam, sudah dipastikan ini akan menjadi wejangan yang mesti Nevan telan bulat tanpa bantahan atau bahkan jangan harap dia bisa memuntahkan hanya karena itu terlalu keras.

"Kedepannya untuk seorang pebisnis sikap menggebu yang kamu perlihatkan barusan akan sangat mudah untuk di manfaatkan! kamu tahu kenapa? karena rasanya kamu seperti bisa memberi segala yang kamu punya karena kamu berpikir cuma orang didepan mu lah yang bisa memberimu jawaban. Ini tidak benar, Nevan! Tetap bersikap tenang meskipun dihadapkan beribu pertanyaan karena itu adalah keputusan yang paling tepat untuk kamu lakukan, jangan buat terlalu mudah karena ketertarikan! Kamu hanya bisa menggunakan segala energimu saat kamu menyatakan bahwa dirimu lah yang berkuasa, bukan merengek seperti seseorang yang kehilangan arah hanya karena rasa penasaran! Paham?"

"Maaf, Kek," sesal Nevan, "aku seperti ini karena...."

"Lanjutkan!"

"Karena keluarga itu memiliki sistem yang sama dengan kita, aku tidak bisa mencari tahu siapa saja orang-orang yang pernah bekerja di sana, dan karena itu juga aku menanyakan langsung pada Kakek, aku yakin Kakek tidak mungkin gegabah untuk menerima Paman Danes begitu saja jika riwayat bekerja sebelumnya dia memilih kecacatan."

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang