Chapter 92 : Yang tersembunyi

113 2 0
                                        

Pagi hari di rumah sakit XXX....

Ruangan bernuansa putih dengan garis abu membentang tipis seorang remaja yang masih terbaring di atas bed bersama tangan terpasang infus mulai mengerjap membuka mata, arah pandangannya mencerna semua yang ada di sekelilingnya begitupun dengan apa yang terjadi sampai sekelebat memori membuatnya kembali mengingat kejadian kemarin malam.

"Shasyania?"

Itulah kata pertama yang diucapkan Nevan, raut wajahnya berubah panik terlebih ketika ia masih kesulitan untuk membuka suara hingga membuat orang yang berada tidak jauh darinya mendekat.

"Nevan," Deron mengusap lembut kepala Nevan, ia lega putranya telah siuman tapi saat menyadari Nevan memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidur Deron langsung menahan.

"Tunggu, mau kemana? jangan bergerak dulu, Nevan!"

Nevan meringis tapi tetap memaksakan diri, situasi tersebut bisa membuat Deron kewalahan jika ini berlangsung lama.

"Shasyania? Shasyania?"

"Iyaa iyaa dia ada, dia ada di sini tadi. Mommy mengajaknya sarapan, tunggu sebentar dia pasti kembali."

Nevan tidak mengiyakan justru ia meminta Deron untuk menelpon Zivanna tapi ketika panggilan tersebut tidak dijawab maka sudah dipastikan Nevan akan memberontak terbukti alisnya sudah menekuk rasa takut pun kian menyelimuti itu tergambar jelas menghiasi wajah Nevan.

"Aku harus memastikannya!"

"Nevan, tunggu sebentar saja! Kondisimu belum pulih total!"

Laki-laki itu menggeleng, "Tidak, kali ini aku harus memastikannya sendiri, aku tidak mau lagi seperti dulu!"

"Nevan!"

Deron bergerak cepat mencegah Nevan yang berusaha untuk melepas paksa selang infus di tangannya, Deron khawatir luka di perut Nevan kembali terbuka hingga aksi saling tahan itupun tidak terelakkan, Nevan dengan keras kepalanya dan Deron dengan gerakan halus menahan hingga pintu di ruangan tersebut terbuka memperlihatkan dua orang dengan tatapan heran.

"Kalian sedang apa?"

Zivanna bertanya apa yang tengah dilakukan oleh kedua orang itu sampai setelahnya ia menyadari penampilan Nevan yang berantakan dan raut muka suaminya yang kewalahan barulah Zivanna paham situasi yang tengah berlangsung di ruangan tersebut.

"Honey bantu aku tenangkan putramu ini! Tenaganya seperti banteng!" papar Deron pada Zivanna yang kemudian memberi isyarat pada Shasyania.

"Geonevan?"

Suara Shasyania terdengar memanggil, gadis itu menatap Nevan lalu Deron meminta agar Shasyania lebih mendekat.

"Liat, kamu sudah lihat sendiri Daddy tidak bohong, Shasyania ada di sini, sudah percaya?" tanyanya seperti serangan balik untuk perbuatan Nevan barusan.

"Honey," Zivanna menyentuh lengan Deron mengajak suaminya untuk keluar, ia tahu kedua remaja itu perlu waktu untuk berdua.

"Shaa, jangan jauh-jauh," pinta Nevan.

"Iyaa tapi jangan banyak gerak dulu, jahitan kamu belum kering, pasti masih sakitkan, mhh?"

Perhatikan sederhana menyejukkan hati saat Shasyania menyisir rambut Nevan menggunakan jemari, mahkota tubuh yang biasanya selalu tampil rapi dengan style menawan sekarang justru sedikit berantakan tapi itu tidak membuat kadar ketampanan seorang Geonevan berkurang.

"Kamu baik-baik aja, kan?"

Nevan menengadah karena posisi Shasyania sekarang lebih tinggi darinya, dari sisi kasur tempatnya duduk Nevan merentangkan tangan memeluk erat pinggang Shasyania, kepalanya menempel di perut gadis itu, matanya terpejam merasakan sebuah kenyamanan yang tidak bisa ia ukur dengan satuan angka.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang