Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan mengguncang yang dirasakan Nevan saat ia membuka pintu ruangan itu, jantungnya berdegup kencang tangan dingin kaki serasa tidak berpijak sampai akhirnya hembusan nafas lega terdengar dari dalam mulutnya.
"Huhhh...."
Dua pasang mata saling menatap Nevan ingin langsung mendekat tapi ia menahan diri ketika Liliana masih memerlukan waktu lebih lama untuk memeluk putrinya yang baru sadar dari koma.
"Shaaa, syukurlah, Nak!"
"Gak cantik kalau nangis, Bu."
"Kamu...."
Hasil dari pemeriksaan Dokter membuat Liliana lega apalagi mendengar putrinya sudah bisa bercanda, Liliana terus mengucap syukur meskipun sambil menitihkan air mata.
"Udah cukup nangisnya."
Shasyania menghapus jejak air mata di pipi Liliana sampai pandangannya kembali terarah pada Nevan, sejuta makna yang tidak bisa dijelaskan mereka hanya mengunci dalam diam sampai Liliana paham dan memberi waktu untuk kedua remaja itu berduaan.
Pintu tertutup tapi Nevan masih setia duduk di sofa, Shasyania kembali memandanginya ia tahu kekasihnya juga perlu di hibur.
"Gak mau deket sama aku?" tanya Shasyania, suaranya masih lemah tapi dapat di dengar, "aku sering mimpiin kamu, kangen," imbuhnya.
Kepala Nevan sempat tertunduk sebelum mendekat menatap Shasyania. Ia berjalan pelan dan memilih duduk di depan gadisnya, tangannya terjulur saat menyapu lembut pipi Shasyania.
"Semakin tampan," goda Shasyania.
Tidak ada sautan tidak ada kebisingan seperti yang biasa Nevan lakukan, kini ia lebih memilih diam namun tarikan nafas saat ia memeluk Shasyania membuat laki-laki itu menangis sesenggukan.
Shasyania paham beberapa hari ini pasti tidak mudah untuk laki-laki itu, "Makasi yaa sayang kamu udah bikin ruangan aku cantik, aku suka bunga-bunganya."
Masih dalam mode diam Nevan seperti memberi hukuman pada Shasyania ia hanya ingin gadisnya yang berbicara dan begitulah yang terjadi Shasyania menenangkan Nevan dengan segala hal yang ia utarakan bahkan bisa dibilang seperti mendongeng sembari menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki yang masih mengurungnya dalam pelukan.
"Sayang, kok sayangnya aku diem aja?"
"Jangan di lepas," seru Nevan.
Shasyania tersenyum akhirnya Nevan membuka suara, "Iyaa enggak tapi coba liat aku dulu," bersama jemarinya Shasyania menelisik wajah Nevan, "ini pasti kamu kurang tidur."
Mereka bertatapan Nevan beralih mencium kening Shasyania yang membuat gadis itu memberi jarak menggunakan tangan, "Ihh gak boleh cium-cium masih sakit."
Nevan berdecak memangnya itu penting, "Yaudah kalau gak boleh berarti peluk lagi!" sungutnya manja.
"Kok jadi ngambekan ya sekarang?"
"Sayaaang...."
Nevan menggerutu saat pelukannya terasa tidak dibalas bahkan ketika mengetahui Shasyania perlu rebahan maka Nevan mengajaknya berbaring dengan posisi masih dipeluk hingga mereka tertidur di atas bed yang sama.
🍂🍂🍂
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.