Chapter 43 : Membosankan.

492 11 0
                                        

"Gadis kecilku!" Raimar begitu senang sampai mendekap tubuh seseorang yang baru memasuki ruangan, "kena macet, yaa?" tanyanya memastikan.

Melihat reaksi Raimar pada Shasyania membuat satu sosok remaja yang masih setia terbaring di atas kasur melirik bersama ekspresi jenaka, "Jangan sampai aku panggil perawat, nafasnya mungkin saja habis gara-gara pelukan maut, Oma!" celetuk Gemmi.

"Bilang saja kamu iri, Geime!"

"Yaah, begini nih, kalau setiap kritikan selalu dipikir negatif!" cibirnya, sampai sesaat kemudian mata itu beralih menatap tumpukan buku yang mulai Shasyania susun di tempat tidurnya.

"Ehh! mau apa? mau belajar? jangan bercanda gue masih lemes ini! infus juga masih banyak!"

Tanpa menghiraukan segala protes yang terus di layangkan Gemmi, Shasyania tetap menyusun buku yang ia bawa sampai kegiatannya selesai barulah ia menatap si penanya.

"Ini untuk kamu!"

"Apaa?"

"Iyaa, kita belajar sekarang."

Gemmi membeo, "Ini lo lagi gabung acara bikin syok? di taruh di mana kameranya?" sungguh di luar dugaan pertanyaan yang dilontarkan Gemmi.

Bahkan rasa keterkejutan Gemmi semakin ketara tatkala Raimar ikut bersuara, "Mulai hari ini, Shasyania akan menjadi tutor mu, Geimee!"

"Apaaa?" lagi dan lagi Gemmi dibuat menganga, ia mulai mengelak dengan segala cara yang ia harap membuahkan hasil.

"Omaa, ayolah... ini selang di tanganku masih terlihat jelas kan, Oma? aku butuh istirahat! apa-apaan ini! jangan belajar dululah!"

Jrrrt!

"Aawww sakit! lepas, Omaaa!"

"Kamu kira dengan alasan sakit kamu jadinya bisa lepas dari tanggungjawab mu sebagai seorang murid? iyaa, begitu?" selidiknya, bahkan tangan itu masih setia menarik-narik telinga cucunya.

"Yaa, ta__"

"Diam, dengarkan dulu! Oma menyayangimu bukan berarti kamu bisa berleha-leha! Pokoknya Oma gak mau tahu! Untuk ulangan semester genap nanti, kenaikan kelas, Oma mau nilai kamu rata-rata delapan!"

Gemmi mendengus, gerakan matanya seperti mengisyaratkan jika keinginan Raimar itu mustahil, "Ini namanya diskriminasi, Oma! memaksakan batasan seseorang! karena jangankan delapan, tujuh saja nafasku sudah senin kamis!"

"BOCAH EDAN!"

Jrrrt!

"Aaawwwh!"

"Kenapa kamu bisa sekeras ini, Geimee!"

"Ooomaa, yaaayaa lepas dulu, awwh, kalau aku lembek, Oma akan lebih pusing menghadapinya!"

"Melawan kamu, ya!"

"Aaawwwh!"

"Shasya, kamu lihat sendirikan, bagaimana keras kepalanya dia? makanya sekarang Oma percayakan si edan ini ke kamu, Oma harap kamu bisa menguras kebodohannya! Oma sudah lelah memberinya pelajaran!"

"Shasyania usahakan, tapi semua kembali lagi pada niatan Gemmi."

Raimar menunduk mengusap wajahnya gusar, "Kamu dengar apa yang diucapkan Shasyania tadi? semuanya tergantung niatanmu! jadi berusahalah!"

"Tahuuu! aku juga sudah berusaha, tapi mau bagaimana lagi, hasilnya selalu saja mengkhianati ku, Oma! Bukan salahku, dong!" kembali menjawab bahkan tanpa rasa bersalah ia berlagak seperti korban yang harus dilindungi.

"Usaha mana yang kamu bilang? Menaruh buku di atas muka lalu tertidur? Atau merubah semua gambar di bukumu menjadi tokoh kartun? Itu yang kamu bilang usaha? Tunggu saja sampai Oma melihat air liurmu tercetak di buku! Oma gunduli kamu tanpa menyisakan satu helai rambut pun!"

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang