Lebih telat dari biasanya, kali ini Nevan memasuki ruang kelas yang sudah tampak terbuka oleh satu sosok lainnya, langkah kakinya mengayun berusaha tetap diam meskipun sempat melirik.
Pun suasana sunyi membuatnya menyibukkan diri dengan salah satu tangan merogoh smartphone dibalik kantong celana, sampai sebuah suara terdengar meninggi dari arah pintu.
"Hei, kalian malah asik duduk tanpa memperdulikan sampah berserakan di depan kelas! Sini bangun cepat pungut! Bersihkan sebelum bel masuk!" ucap Iyong, selaku satpam di SMA Guardians.
Nevan enggan memperdulikan, namun berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh Shasyania, gadis itu justru langsung berdiri dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Iyong.
"Loh, ini kenapa lagi sendiri! Saya memerintahkan kalian berdua!" serunya dengan langkah tegap mendekat, "kamu! kenapa kamu masih duduk saja? SINI MAJU! bantuin temen cewek kamu! Masak kalah sama perempu___"
Belum usai satpam itu berucap karena kini justru Nevan yang bersuara lantang, "Gunanya sekolah membayar petugas kebersihan untuk apa? makan gaji BUTA!" sarkas nya.
Iyong tersentak mendengar ucapan barusan, sampai pandangannya yang minus samar-samar menangkap sosok yang tengah menatapnya kesal.
Deg!
"Apes!"
Belum hilang rasa keterkejutan Iyong, ia kembali dibuat bergetar ketika menyadari sosok yang tengah berjongkok memungut sampah itu adalah siswi pindahan yang beberapa hari ini menjadi buah bibir akibat dua orang yang paling berpengaruh di SMA Guardians mencatatkan dirinya sebagai wali Shasyania.
"Gi... gi.. gini loh, maksud saya.... A...da sa...sampah berserakan, emmmh ke...kenapa bisa begitu, yaa?" jelasnya terbata-bata ia bergetar mendekati Shasyania.
"Suuu... sudah! Ini biar saya saja yang urus, ka...kamu bisa duduk," ucapnya selembut mungkin, Iyong terus berdoa agar kesalahannya ini tidak mengundang malapetaka.
"Biar saya saja, Pak!" tolak Shasyania. Ia berdiri, namun ketika tangannya hendak mengangkat benda tabung tersebut tanpa diduga sebuah tangan dari sisi lainnya juga terlihat membantu.
Srrrt!
Berdampingan namun tidak saling menyapa, begitulah keadaan dua insan dengan isi pikiran berbeda, mereka membisu menyusuri setiap koridor yang masih minim akan siswa lainnya.
Sampai tibalah mereka di ujung bangunan, di depan bak besar tempat sampah-sampah itu diletakkan.
"Lepas, biar gue yang buang ke sana, lo diem!" ucap Nevan, tanpa menunggu jawaban dari orang yang tengah ia ajak bicara.
Awalnya Shasyania membiarkan saja, toh untuk apa berdebat hanya karena sampah, sampai netra matanya menangkap sesuatu yang sangat ia kenali. Sepatu dengan garis melengkung, benda miliknya yang sempat hilang beberapa hari yang lalu akibat bullying.
"Heh, ngapain?"
Nevan menyadari ketika gadis itu mencoba meraih sesuatu yang letaknya cukup tinggi di atas tembok tepat di sebelah mereka.
"Sepatu aku!"
"Sepatu? itu?"
Shasyania mengangguk antusias bahkan tanpa pikir panjang ia berniat naik untuk menjangkau sepatu pemberian sang Ibu sampai akhirnya Nevan menghentikan aksinya tersebut.
"Mau lo loncat berapa kali pun itu sepatu gak akan jatuh!"
Tidak ada tanggapan dari Shasyania, hanya matanya yang sempat melirik kesal. Jika tidak bisa membatu lebih baik diam mungkin itu pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomanceDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)