Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
"Berarti itu merupakan hari terakhir kamu di Kota B, tanpa bertemu dengan Bralinzhea lagi?"
Dokter Jenni menyandarkan punggungnya di kursi setelah mempertanyakan hal tersebut pada Nevan, tangannya pun sibuk bergerak di atas kerta yang masih setia ia pegang.
"Saya menemuinya lagi, sebelum saya benar-benar meninggalkan kota B, saya minta izin ke Kakek untuk bertemu dengan Ziaa. Walaupun bisa di bilang, kata perpisahan yang sebenarnya tidak perlu karena dia juga tidak perduli," Nevan terkekeh dengan kalimat terakhirnya.
"Lalu Nevan, bagaimana kamu menjalani hari-hari mu di Kota J? Umhh, hal apa yang membuatmu bertahan tanpa niat untuk kembali mencari Ziaa untuk membuat dia kembali mengingat masa lalu kalian? Apa kamu menyerah setelah penolakannya yang berulangkali? atau karena ada alasan lain?"
Nevan tampak tenang untuk menjawab setiap pertanyaan dari Dokter Jenni.
"Sebenarnya perasaan tidak terima ketika dilupakan begitu saja masih ada, dan peralihan untuk saya membiasakan diri di Kota baru juga cukup sulit, tapi pola didik Kakek yang tegas membuat pikiran saya jadi teralihkan, setiap kali saya gelisah Kakek selalu berkata 'Jika isi di kepalamu terlalu ribut maka bergeraklah, jika kamu tidak bisa mengendalikan pikiranmu maka selesaikanlah dengan menjawab sebuah soal' dari sana juga Kakek selalu mendukung saya untuk menjalani aktivitas seperti bela diri, segala macam bentuk bela diri saya pelajari di usia dini, itu juga membuat saya lebih kuat, tidak lagi merasa lemah, saya juga memiliki hobi baru yaitu menjelajahi alam, walupun kadang beberapakali saya kembali mengunjungi kota B, tapi tidak untuk bertemu atau mengunjungi rumah Ziaa melainkan pergi ke tempat di mana kami pernah bermain bersama, di sana saya menghabiskan waktu dan kembali bertemu dengan Nyitnyit, sahabat lama kami!"
Jenni memberi respon anggukan kepala, masih diam sebelum akhirnya angkat bicara.
"Nevan, kamu sudah berjalan sejauh ini, jangan karena masa lalu yang tidak bisa diubah sampai membuatmu tertahan di masa kini. Karena luka yang tidak memiliki jalan keluar terkadang memang ada, tidak perlu di ungkit setidaknya dulu kamu pernah mencoba untuk memperbaikinya, mengoreknya kembali juga tidak ada guna. Dan menurut saya, kenapa kenangan itu kembali datang dan membuat kamu sempat gelisah itu karena sekarang kamu memiliki Shasyania, kamu hanya syok, tidak terima karena kamu memikirkan gadis lain selain Shasyania. Kamu tipe laki-laki yang berpegang teguh dengan apa yang kamu yakini, jadi ketika sesuatu datang tanpa bisa kamu kendalikan itu akan membuatmu berada di fase berperang dengan logikamu sendiri. Tapi sekarang, kamu sudah tahu, kan jawaban atas apa yang harus kamu putuskan?"
Nevan mengangguk mantap, sorot matanya mengunci sebuah objek menggantung diruang tersebut, "Dokter, jawab jujur, apa perasaan saya pada Ziaa dulu, itu cinta?" tanyanya datar tapi penuh penekanan.
Jenni berdehem seraya menyunggingkan senyuman, "Yaa, meskipun pada masa itu kamu tergolong anak-anak tapi ketertarikan tidak pernah memandang usia, kamu ingin melindunginya, menjadi sosok pahlawan bagi orang tersebut, ketika kamu gagal kamu terluka, perasaan mendalam yang kamu rasakan itu, menurut saya... yaa itu cinta dan ketika cinta itu telah berpindah, berarti penggantinya merupakan orang yang spesial!" tegas Jenni, mengakhiri sesi pertemuan dengan Nevan untuk hari ini.
🍁🍁🍁
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.