Chapter 03 : Mengejutkan

2.2K 38 0
                                        

Masih di cermin yang sama, namun dengan raut dan gestur berbeda. Remaja yang sedang jatuh cinta tidak lagi ada dalam sosoknya, kini yang tersisa hanyalah tatapan amarah dan rasa tidak terima.

"Sial! mereka merusak semuanya! Apa yang kalian inginkan, harta hah? Jangan harap setelah ini kalian bisa tersenyum!"

Nevan begitu emosi setelah kedatangannya dari Paris, terlebih lagi saat ia baru menginjakkan kaki di kediaman Eldione, ia yang telah lelah fisik berniat beristirahat namun siapa sangka dirinya justru mendengar sesuatu yang mampu membuatnya berubah menjadi sosok yang penuh dendam.

flashback on....

"Buktinya mereka jadi kaya!"

"Tapi si Danes meninggal, jadi apa untungnya?"

"Justru itu, kalian ingat pertamakali supir itu datang? kita yang udah berpuluh-puluh tahun bekerja di sini gak pernah tuh dapet kepercayaan dari Tuan besar, tapi dia, baru juga beberapa tahun udah jadi kesayangan aja, Tuan Muda juga! dan sekarang, setelah dirinya meninggal, bahkan kita harus mempersiapkan segalanya untuk menyambut keluarganya yang sebentar lagi di jamu makan malam. Yaa mendadak OKB mereka, apalagi katanya yaa, istri si sopir minta setengah harta keluarga Eldione, dan karena Tuan besar merasa bersalah jadi di setujui, dan yang paling parahnya lagi, Tuan Deron, beliau sampai di coret dari ahli waris, karena haknya udah berganti jadi milik si istri  sopir! Bener-bener licik keluarga itu!"

"Iyaaa, iyaaaa! dari awal saya juga udah curiga, ujug-ujug diterima langsung di sayang pula! pandai bersilat lidah, mengambil hati Tuan Besar dan juga Tuan Muda!"

flashback off....

Braaak!

"Ternyata kau sama saja Paman seperti yang lain. Menjijikan! Aku percaya tapi malah ini yang ku dapat! Aku ingin memberi bukan kau rampas semua hak Daddy ku! Bahkan di situasi seperti ini aku masih saja memanggilmu, Paman? Sial! Kau mau harta untuk keluarga mu? Baiklah! saksikan dari atas sana apa yang akan aku beri pada keluargamu!" serunya menatap langit bersama setetes air mata yang berhasil lolos dari pipinya.

"Jangan bangga dulu! aku menangis bukan karena meratapi kepergianmu! TIDAK! Sama sekali tidak seperti itu! Kau tidak penting hingga bisa membuat ku merasa kehilangan! Tidak!"

Duka jadi benci, hilang akal membuat semuanya terkesan salah yang hanya akan menyisakan amarah

🍁🍁🍁

"Enggak ada pilihan lain lagi Pak?" tanya Shasyania, ketika berbincang di ruang tamu rumahnya bersama Atom asisten keluarga Eldione

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Enggak ada pilihan lain lagi Pak?" tanya Shasyania, ketika berbincang di ruang tamu rumahnya bersama Atom asisten keluarga Eldione.

"Maaf Nona, semua atas perintah Tuan Toreno, jadi ini mutlak!" Walaupun Atom berkata tegas namun ia tetap bersikap ramah ketika menyampaikan amanat sang majikan.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang