Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 60 : Permainan emosi

419 8 0
                                        

Gerimis hari ini seperti sebuah tanda bahagia untuk seorang anak remaja yang berdiri di sisi balkon, senyumnya terukir tipis dengan tangan menjulur menangkap tetes bening yang terjatuh dari langit. Dingin, namun kehangatan di hatinya tidak akan terkikis.

 Dingin, namun kehangatan di hatinya tidak akan terkikis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Selamat pagi, Kakek."

Toreno menoleh menyambut sapaan cucunya, dan setelahnya pria paruh baya itu kembali melirik namun kali ini dengan tatapan berbeda.

"Tell me, what dream did you have last night?" bukan tanpa alasan Toreno bertanya ini karena aura Nevan terasa berbeda, lebih bersahaja.

"Mimpi? aku tidak ingat."

Toreno tersenyum, seperti biasa Nevan dengan caranya menjawab, lugas tanpa basa-basi.

"Oh iya Nevan, kamu ingat kapan terakhir kali kita keluar bersama?"

Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan panjang antara dua orang lintas generasi, tidak biasanya Toreno mengajaknya berbincang saat berada di meja makan.

"Mhh sepertinya libur semester, atau aku salah, aku lupa. Kenapa? Kakek ada waktu akhir pekan ini?"

"Tentu saja, Kakek selalu ada waktu untuk dihabiskan dengan keluarga, kamu yang Kakek punya, cucu mudaku, satu-satunya cucu lelakiku!" tegas Toreno, raut bangga untuk menyatakan Nevan adalah pewarisnya.

"Kita tidak perlu menunggu akhir pekan, toh juga hari ini kamu libur," imbuhnya dan tentu segala hal yang di putuskan Toreno harus terlaksana.

Awalnya Nevan berkeinginan mencari alasan untuknya menolak namun entah kenapa tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi berseri raut mukanya tersenyum.

"Oke hari ini aku bisa, jadi apa kegiatan menarik yang bisa kita lakukan hari ini?"

"Memancing! seru, bukan?"

"Memancing? itu artinya ki__"

"Iyaa, piknik di luar rumah! Sekali-kali kita harus jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Kamu hanya perlu bersiap kita berangkat satu jam dari sekarang!"

"Kek, tapi, ini terla__"

"Kenapa, bukannya tadi kamu jawab bisa, jadi apa masalahnya sekarang?"

"Bukan begitu Kek, Nevan pikir kita cuma di rumah."

"Lalu? Memang kenapa kalau di luar rumah? tidak masalahkan?" telisik Toreno bersama tatapan intens dan itu membuat Nevan terdiam.

"Nah karena tidak ada lagi bantahan, jadi mari kita sarapan setelah itu kamu siap-siap, Nevan."

Seperti biasa Toreno ingin semua berjalan sesuai keinginannya begitupun Nevan tapi sesuatu tengah mengusik pikirannya maka sebelum sesi obrolan ini berakhir laki-laki muda itu segera membuka suara.

"Apa hanya kita saja?" tanyanya memastikan.

"Iya hanya aku dan cucuku, tidak ada yang lain, tenang saja Nevan," Toreno kira ucapannya barusan membuat Nevan senang tapi raut kegelisahan justru menyelimuti hati sang cucu.

Mine? [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang