Chapter 88 : Hilang

124 2 0
                                        

"Shaaa, entar lo duduknya bareng gue aja, yaa? Ririn sama si Andri dia," Neita berucap malas bersama tangan aktif mengecek semua barang di tas kecil miliknya, "apes! mana handset gue ketinggalan lagi!" gerutunya.

"Andri sama Ririn, Nit?" tanya Shasyania penasaran.

"Iyaa, bilangnya sih mau bahas soal kegiatan entar, kan mereka perangkat kelas, cuma... gue gak begitu percaya, kayaknya mereka ada something, deh!" ucapnya mengosip bahkan volume suara di kalimat terakhir semakin melemah.

"Ohh, gak jomblo lagi berarti!"

"Huh?"

"Iyaa, gak jomblo lagi," tekan Shasyania, dengan entengnya ia berucap yang tentunya membuat Neita menatap kesal, itulah reaksi yang dia inginkan. Jahil memang.

"Iyaaaa, iyaaaa tahu, yang gak jomblo jugaa!" seloroh Neita, "Geonevan beneran gak ikut, Shaa? lo kesepian, dong? Yaudah santai... masih ada gue, bareng-bareng kita lewati lima hari kedepan dengan keceriaan tiada tara, let's goooooo!"

🍁🍁🍁

Bus SMA Guardians beriringan meluncur ke lokasi tujuan, terhitung empat jam lamanya perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di kaki gunung X yang berada di kota B, dingin langsung menusuk tulang padahal itu masih pukul satu siang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bus SMA Guardians beriringan meluncur ke lokasi tujuan, terhitung empat jam lamanya perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di kaki gunung X yang berada di kota B, dingin langsung menusuk tulang padahal itu masih pukul satu siang.

"Anak-anak mohon perhatiannya, pastikan semua sudah masuk ke barisan!"

"Sudah, pak!"

Di hadapan puluhan siswa kini jejeran para pembina acara telah berdiri tegak di depan sana, dan hal pertama yang diperintahkan adalah mereka harus menyiapkan tenda, semua peserta menyambut antusias yel-yel semangat pun menggema meramaikan suasana.

"Nit, Rin, tinggal bentar ya, aku mau buang sampah dulu, ada yang nitip?" Shasyania menunjuk tempat yang ia maksud dan berjalan santai sendirian.

Namun siapa sangka langkah tenangnya itu akan berubah menjadi petaka ketika kehadirannya mulai di sambut riang oleh beberapa pasang mata.

"Jav, sepertinya dewi fortuna berpihak pada kita, coba liat ke arah jam tiga!" pinta Lucky, ia tersenyum penuh arti ketika merasa rencana mereka telah direstui.

Berjarak sepuluh meter dari lokasi acara anggota geng Trigger telah berhasil menyelinap masuk dengan tipu muslihat mereka. Orang-orang itu begitu lihai menyamar apalagi saat target mereka terlihat sendirian, ini akan menjadi waktu yang pas untuk melancarkan aksi mereka.

Javier sang ketua mendesis senang, permen karet yang ia kunyah terasa semakin memberi rasa, bahkan mungkin saja ia berpikiran bahwa kadar gantengnya bertambah hanya karena menemukan sebuah kemenangan.

"Fokus! dengerin ini, sesuai yang gue bilang kemarin. Macan kumbang kalian alihkan perhatian! serigala betina mulai memancing! dan macan tutul kalian eksekusi!" titahnya penuh gaya namun begitu kontras ketika anggotanya malah saling menatap seakan kebingungan.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang