"Aku tahu aku salah, tapi waktu itu gak ada kemungkinan lain yang bisa aku pikirkan, Shaa! Rasa di manfaatkan, perasaan tidak terima atas posisi Daddy yang digantikan begitu saja, itu membuatku semakin marah. Apalagi mendengar aku harus bertunangan dengan anak Paman Danes, aku terlanjur marah, semua menjadi rumit tidak keruan."
Nevan menggenggam erat tangan Shasyania, "Aku memang sempat benci kamu, aku berperang dengan egoku sendiri, Shaa, sampai peristiwa penyerangan itu terjadi, di hari ulang tahun Dariel, ternyata rasa benciku tidak seberapa di bandingkan dengan rasa takut kehilangan kamu, Shaa."
Suara Nevan bergetar tangannya semakin erat memegang jemari Shasyania ketika menceritakan kembali situasi dimana perasaan mengalahkan benci yang sempat ia rasakan.
"Geonevan, Ayah selalu cerita hal baik tentang kamu. Kenapa bisa kamu berpikir hal menjijikkan seperti itu tentang Ayahku? apa yang kamu pikirkan, Geonevan? Aku dan Ibuku, kami rela menukarnya dengan harta?"
"Shaaaa, maaf," Nevan merengkuh tubuh Shasyania ke dalam pelukannya.
"Aku merindukan Ayah ku, Geonevan! dari awal aku tahu kamu menyalahkan Ayahku, tapi kembali mendengarnya membuat hatiku sakit, kenapa aku bisa menyukai orang yang membenci Ayahku sendiri! kenapa hatiku justru mudah terbuka untuk orang seperti ini!" tangisan Shasyania pecah, ia memanggil ayahnya dengan raungan kerinduan mendalam, tidak ada seorang pun di dunia ini yang siap atas rasa kehilangan begitupun Shasyania.
"Aku minta maaf, sayang, aku minta maaf, aku mohon jangan bicara seperti itu, aku gak pernah benar-benar membenci kalian! Aku mengenal Paman Danes, hanya saja..." Nevan seperti kehabisan kata, ia hanya merengkuh Shasyania agar tidak menjauh.
"Sayang, aku terima marah kamu, tapi... jangan nyuruh aku pergi, aku mohon."
Pelukan tanpa balas yang terus Nevan rengkuh tanpa niat untuk melepaskan adalah caranya agar Shasyania tetap bertahan bahkan di saat Shasyania memukul punggungnya Nevan hanya menerima, lebih baik Shasyania bereaksi daripada diam tanpa melakukan apa-apa.
Sampai tangisan itu reda, sunyi menjadi pendamping diantara mereka, Nevan mengusap pipi Shasyania yang masih menyisakan basah lalu menyatukan kening mereka.
"Aku tahu masalah ini gak bisa selesai hari ini. Tapi aku mohon, sayang, jangan pernah menyerah untuk hubungan kita," pinta Nevan dan sebelum ia pulang ia mengecup kening Shasyania, "take your time, aku kabari lagi setelah aku sampe rumah," ucapnya sebelum meninggalkan Shasyania yang hanya memberi balasan anggukan kepala.
🍁🍁🍁
Terhitung tiga hari sudah setelah perdebatan itu terjadi mereka hanya berkabar via telepon, Nevan memberi waktu sesuai ucapannya pada Shasyania dan semua aktivitas yang ia lakukan sekarang hanya fokus untuk menyembuhkan diri, maka di sinilah tempat yang ia tuju dimana Dokter Jenni berada.
"Cuaca hari ini rasanya lebih panas dari hari kemarin, yaa, tapi lebih baik panas, kan daripada hujan, apalagi panas ditambah macet! Buat suasana hati gak karuan, kalau menurut kamu sendiri bagaimana, Nevan?" tanya Jenni sembari mempersilahkan Nevan duduk.
"Saya lebih suka hujan."
Jenni tersenyum lalu mengambil buku yang berada di meja yang hanya berjarak tiga puluh centimeter darinya, ia sekilas memperhatikan catatan tersebut sebelum kembali menatap Nevan.
"Baiklah, kita lanjut pembicaraan kita sebelumnya?"
Nevan mengangguk, ekspresinya kali ini jauh lebih tenang, perubahan yang signifikan dan Jenni bisa merasakan itu.
"Saya bertemu dengan, Ziaa."
Mulut Jenni terbuka hingga deretan giginya terlihat, "Lalu apa yang kamu rasakan, Nevan?" tanyanya seraya menghidupkan mode membaca gestur dan raut muka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
CintaDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)