Chapter 46 : Suhu

474 8 0
                                        

Kabut tipis berbalut gerimis mampu membuat sekujur tubuh menggigil entah ini akan berlangsung lama atau sang mentari yang muncul sebagai tanda restu bagi kegiatan reboisasi yang dilakukan kalangan remaja dan para organisasi perduli lingkungan lainnya di sebuah desa yang beberapa bulan lalu terkena bencana.

Pun situasi tersebut membuat dua orang remaja masih setia terdiam dalam mobil dengan arah pandang menatap keluar.

"Kalau cuacanya gak berubah kita balik aja gimana?" saran Nevan, sembari menekan sebuah tombol hingga suhu di dalam mobilnya perlahan menghangat.

"Iyaa, aku setuju."

"Tadi udah sarapan?"

"Belum sempat, kamu gimana?"

"Sama," selepas jawaban tersebut Nevan tampak berpikir lalu menjulurkan tangannya kearah handle pintu, "gue keluar bentar nyari makanan yaa."

"Ada payung?" tanya Shasyania yang membuat lengkungan sambit di bibir Nevan terlihat.

"Yah, gak bawa lagi."

"Berarti tunggu sampai hujannya reda."

Nevan menggeleng, "Lagian gak terlalu deres, aman."

Jawaban Nevan membuat Shasyania segera melepas jaket yang ia pakai, menyerahkannya pada laki-laki itu bahkan turut membantu Nevan untuk memakainya.

"Kalau pas balik kedinginan, dapet peluk gak?" goda Nevan.

Shasyania belum menjawab tapi Nevan sudah lebih mendekat laki-laki itu bergerak menautkan setiap ruas di jemari mereka.

"Marahnya jangan lama-lama, kalau bisa jangan di pendam juga, mhh? janji gue perbaiki!"

"Hmmm," tanpa kata yang jelas Shasyania hanya berdehem seperti bingung untuk menyampaikan entah itu perlu ataupun tidak.

"Tinggal bentar dulu yaa, jangan kemana-mana!"

Dan baru lima meter Nevan beranjak, handphone miliknya yang tertinggal di dashboard terlihat bergetar, 'Freya' itulah abjad yang tertera sebagai si penelpon, namun hingga deringan ke tiga Shasyania masih tidak acuh dirinya membiarkan saja karena bukan tanpa alasan, Shasyania lebih menghargai tentang arti dari kata, batasan.

🍂🍂🍂

"Ehhh! liat kearah jam enam! Ganteng banget, gila!"

"Astaga!"

"Buruan, tata semua makanan di depan! Buat semenarik mungkin!"

"Sebentar, sebentar! cek dulu, muka aku bersihkan? gak ada noda sama sekali?"

"Minggir! dia keburu sampe!"

Selayaknya bongkahan magnet di pusaran besi Nevan selalu saja berhasil menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada, dan tentunya hal itulah yang selalu membuatnya risih.

Lirikan dengan gestur menggoda situasi tersebut hal yang paling lumrah disekitarnya, dan sialnya lagi mau sekeras apapun ia menolak mereka seperti tidak perduli.

"Kalian jangan terlalu berharap! karena yang itu, biar jadi urusanku!"

"Rat! masak semua kamu embat, sih?"

"Iya-iyalah, mending kalian sadar diri! yang cantik di sini itu aku! kalian gak bakal dilirik!" ia adalah Ratna bunga desa di wilayah tersebut yang juga ditugaskan untuk menjamu semua relawan dengan makanan khas daerah mereka.

Mengibaskan rambut saat menunggu kehadiran Nevan, lalu menyapa hangat, "Hai, selamat pagi, selamat datang di desa kami," suaranya dibuat selembut mungkin sembari mendekat dengan tangan menunjuk menu yang disediakan.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang