Bintang permata langit berkilau, titik-titik di atas sana memancarkan cahayanya sendiri mereka selayaknya jutaan jiwa yang tak terhitung jumlahnya yang tengah menari lewat lantunan harmoni kosmik.
Bintang lebih dari sekedar pemandu di kala gelap lebih dari apapun juga Nevan telah menyimpan sejuta kenangannya di setiap kelap-kelip yang terlihat, bintang dengan segala keindahannya pernah menjadi saksi bisu perjalan waktu, simbol harapan dan rasa syukur, begitupula bintang dengan segala keindahannya akan selalu menjadi atap teduh bagi seorang Geonevan.
"Shaa, tahu gak semakin gelap sekitaran kita maka semakin jelas rasi bintang yang terlihat. Yang itu orion, rasi bintang paling mudah dikenali karna bentuknya yang khas dengan tiga bintang berjejer lurus sebagai sabuk orion," jelas laki-laki itu yang membuat Shasyania semakin takjub.
"Wah ini indah, Geonevan."
"Nanti kita liatnya pakek teleskop mhh, biar tambah jelas."
"Iyaaa, dari dulu aku pengen liat make alat itu, gak sabar rasanya pasti bagus banget!"
Di bawah jutaan bintang dua orang anak remaja berbaring bersama pandangan lurus ke atas mereka terkesima dengan apa yang dilihatnya, Nevan ia ingin melibatkan Shasyania dalam hal yang ia suka.
Keduanya saling melirik sebelum akhirnya hanyut dalam ketenangan, jemari Nevan bergerak memenuhi setiap ruas jemari Shasyania, menarik gadis itu agar berada di atasnya.
Pandangan mereka beradu lalu Nevan menyelipkan helai rambut Shasyania yang menjuntai menerpa wajahnya, "Shaa?"
"Mhh?"
"Aku suka bintang, kamu sukanya apa?"
"Aku suka bulan," jawab Shasyania ia hampir saja berpikiran jika Nevan akan menggombal.
"Shasyaa, di atas sana ada banyak hal yang gak masuk logika penuh misteri belum terpecahkan, magnet besar dengan segala cerita yang masih tertutup rapat, aku selalu ingin tahu dan mencari tahu begitupun untuk sesuatu yang berada di atasku sekarang ini, dia dengan segala yang ia punya akan selalu membuatku tidak sabaran untuk menyambut hari-hari ku selajutnya."
Deg!
Dugaan awal Shasyania ternyata tidak sepenuhnya salah, ia kembali terkena rangakaian kalimat mendayu seorang Nevan tapi untuk yang satu ini harus Shasyania akui itu terdengar nyaman, ungkapan tersebut indah mengalir di pendengarannya.
"Hei, lihat aku," pinta Nevan, "hemm, biasanya kalau udah romantis kayak gini harusnya ada lanjutan sih," ungkap laki-laki itu jahil seraya menunggu reaksi Shasyania.
"Mau di kasih uang berapa emangnya?"
"Yah, kok gitu kamu," protes Nevan.
"Iya-iyadeh, maunya apa?"
"Minimal peluk maksimal cium! biar energiku pulih," terang Nevan, ia begitu lancar tanpa terbata.
Diamnya Shasyania membuat Nevan sempat tersenyum ia mengangkat sedikit kepalanya dan gerakan tersebut sukses menghasilkan pertemuan diantara kedua bibir mereka.
Cup!
"Jangan di tampar yaa."
Di saat Shasyania mati-matian menyembunyikan rasa malu Nevan justru kembali membuatnya habis kata, Nevan sengaja mengulik cerita lama yang sempat terjadi ketika tangan Shasyania pernah mendarat mulus di pipinya.
"Ihhh!"
"Kok ihh?"
"Orang waktu itu beda cerita, di cium tiba-tiba siapa yang gak marah cobak!"
"Kalau sekarang gimana?"
"Bisa gak jangan diperjelas?"
"Kan aku nanya, sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
RomansaDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)