Dinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Layaknya terjun...
Helaan nafas terdengar setelah dirinya mendapat sebuah pesan dari benda pipih yang masih dipegangnya, kecewa satu kata yang pas ketika Nevan dibendung rasa tidak terima saat Shasyania membatalkan janji yang telah mereka buat kemarin.
Nevan masih menunggu deringan selanjutnya namun yang terjadi ia harus kembali menelan kecewa, tidak ada penjelasan, pertemuan di tunda sampai waktu yang belum ditentukan. Libur sekolahnya terlewati begitu saja, kini rembulan telah hadir menjalani shift malamnya.
Jenuh, Nevan bangun dalam keadaan kurang bersemangat niat hati mengambil segelas air terhenti ketika sebuah pesan masuk berulangkali yang membuat fokusnya teralih. Ada keterkejutan dari sorot matanya yang tajam, Nevan berjalan menuju walk-in closet meraih sebuah jaket lalu bergegas kaluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan di sinilah Nevan sekarang di sebuah parkiran restoran ternama, kuku tangannya mencengkram stir kemudi dan arah pandangannya menatap pintu masuk sampai layar handphone miliknya mengeluarkan cahaya yang berarti ada pesan masuk.
Semua sama apa yang tertera di layar pipih yang di genggam dengan kenyataan dihadapannya percis, Shasyania keluar dari bangunan megah itu bersama Gemmi dan juga seorang wanita tua yang ia ketahui bernama Raimar, pemilik Zail Company.
Nevan turun dengan langkahnya yang tegap ia meraih pergelangan tangan Shasyania dan menahan gadis itu untuk memasuki mobil Raimar, Nevan ingin mendengarkan penjelasan ia harap selajutnya tidak akan mengundang kecewa.
"Geonevan?"
"Ada apa ini?" tanya Raimar, kaca mobilnya diturunkan wanita paruh baya itu menelisik kearah Nevan, "kamu? ada apa ini?" tanyanya kembali dan di detik itu juga Gemmi ikut keluar dari kursi kemudi.
"Lepas, woi!" tegasnya, mengarah pada cengkraman tangan Nevan yang masih mengait di pergelangan tangan Shasyania.
"Kita bicara!" Nevan mengabaikan Gemmi, ia merasa tidak ada urusan dengan laki-laki itu matanya menatap Shasyania seolah menegaskan ia tidak dalam kondisi yang bisa mendapat penolakan.
"Gemmi, aku pulangnya sama Geonevan," ucap Shasyania lalu pandangannya mengarah pada Raimar, "Oma maaf, Shasyania pulangnya sama Geonevan," pamitnya.
"Iyaa gadis kecil Oma, tapi jika ada sesuatu langsung telepon Oma, oke?" Raimar tersenyum teduh ia nampak tenang berbeda dengan dua pemuda yang masih berdiri dengan ekspresi saling serang.
Nevan tidak ingin kalah saing ia melangkah mendekat dengan kepala sedikit menunduk agar pandangannya bertemu dengan Raimar.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bahkan untuk kedepannya juga sama, dan tolong jangan sita waktu Shasyania lebih lama dari ini, itu tidak baik!" tegasnya yang di sambut senyum ramah dari Raimar. Nevan membawa Shasyania menjauh melenggang pergi dari area parkiran.
"Geime, masuk," pinta Raimar, "seperti inilah aturannya, Geime, tidak ada yang mudah untuk sesuatu yang indah, berjuanglah!" pungkasnya sembari mengusap lembut telapak tangan cucunya.