Ucapan terimakasih tertata rapi, Shasyania mengutarakan segala bentuk puji syukur ketika dirinya menjadi pembicara di atas podium, kini langkah itu menyusuri anak tangga yang di sambut riuh tepuk tangan, pandangan mata pun beraneka ragam menatapnya intens hingga saat ia kembali ke barisan kelas seseorang sudah tampak kegirangan.
"Shaaaaaaaa!"
"Iya makasi, Neita," jawab Shasyania sembari menepuk ringan lengan gadis itu.
"Belum juga gue selesai ngomong, Shaa! lo udah makasi duluan," herannya.
Shasyania tertawa, "Liatnya gak usah gitu juga, Nit. Iya kenapa? ada apa Neitaaa? kamu mau megang ini, yaudah nih," ucapnya seraya menyerahkan ukiran cantik tanda bahwa seseorang telah mendapatkan predikat juara umum.
"Asliii, baru megang aja tapi udah berasa bangga! Apalagi kalau ini beneran milik gue yaa!" seru Neita, seperti biasa ia akan heboh dan cukup menyita perhatian.
"Kalau gitu gimana kalau ulangan semester ganjil nanti aku bantu kamu dapet yang kayak gini juga, mau?" tawar Shasyania, tentu saja sulit tapi bukan berarti mustahil meskipun apa yang ia ucapkan barusan mengandung makna jahil karena Shasyania tahu Neita tidak akan setuju.
Lihat saja sekarang mulut Neita sudah seperti naga yang siap menyemburkan bara api. Gadis itu bersedekap dada sembari mencebikkan bibir.
"Shaaa, lo mau bikin otak imut gue ini meleleh, iyaaaa?"
"Kan usaha Nit."
"Gak, gak perlu, apaan! sangat tidak perlu, untuk yang satu itu bener-benar gak usah! Mubazir!" tolaknya.
Ririn ikut nimbrung ia bahkan menyelip ke barisan, ini cara agar dirinya lebih leluasa untuk menyindir.
"Dia naik kelas aja udah syukur, Shaa! gak usah nawarin hal yang bikin dia kayak orang mau sekerat!" sindirnya bersama tawa, "tapi kalau tawaran lo masih berlaku, buat gue aja, Shaa? pleaseeeee, bantu gue biar bisa masuk sepuluh besar, mau yaa? Gue mau bikin ortu gue bangga sebelum gue tamat di era putih abu ini! Tawaran lo berlaku di gue juga, kan?" tidak menyia-nyiakan kesempatan Ririn bergerak sigap saat menemukan peluang.
"Iyaa tentu Rin, Neita jug___"
"Gak minat, Shaa!" sambar Neita.
"Yaudah gak maksa lagi, deh aku." seloroh Shasyania.
"Shaa, kapan kita mulainya? Lebih cepat lebih bagus biar entar pas hari pertama sekolah otak gue langsung encer!"
"Mhhh, aku buatin rules belajar kita dulu yaa."
"Yeeeeyyy! Makasi Shasyania!"
"Tapi ingat, kamu gak boleh sering-sering ngeluh. Bilang nyerah hanya ada tiga kali kesempatan, kalau melebihi itu aku anggap kamu udah gak tertarik lagi, gimana?"
"Tantangan di terima, Ms Shasyaa!"
"Bagus!"
Ririn senang ia merasa terberkati oleh kehadiran Shasyania karena beberapakali ia belajar menggunakan metode yang diberikan gadis itu pelajaran yang tadinya ia anggap mustahil entah kenapa mulai terlihat cara penyelesaiannya,
dan kini ia bertekad untuk lebih serius lagi.
"Udah? udah selesai kalian ngomongin hal yang bikin pala gue puyeng? Sekarang langsung ke intinya aja, pulang sekolah entar kita mau nongkrong dimana?" sergah Neita, sesegera mungkin ia ingin menyudahi topik mengenai pembelajaran.
"Cafe Skywin gimana? gue denger makannya enak-enak, soal harga pas lah untuk anak sekolahan kayak kita!" seru Ririn.
"Oke cabs!"
🍂🍂🍂
Pada akhirnya setiap langkah memiliki tujuannya masing-masing, begitupun ruang bising yang biasanya penuh kata dan tawa kini perlahan senyap berganti sunyi, tempat itu mulai ditinggal penghuni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine? [END]
Storie d'amoreDinesclara Shasyania, gadis cantik primadona SMA MERPATI. Ia begitu dikagumi seluruh siswa hingga mendapat julukan sebagai Dewi Nirwana namun suatu peristiwa membuatnya harus pindah sekolah dan mau tidak mau dia harus menjalaninya. Layaknya terjun...
![Mine? [END]](https://img.wattpad.com/cover/309996319-64-k15753.jpg)