Chapter 28: Sedang tidak percaya diri

702 21 0
                                        

Di tepi balkon seorang anak remaja dengan ekspresi yang sulit dijelaskan tengah menerima sebuah panggilan telpon. Wajahnya tampak serius, bahkan salah satu tangannya mengepal dan sesekali mengusap gusar.

"Kakek bangga dengan hasil ulangan kalian! Shasyania tidak mengecewakan bukan? akui saja, Nevan!" ucap Toreno, dari seberang sana, "kenapa diam saja?"

Nevan perlu ruang untuknya meyakinkan diri sebelum akhirnya bertanya, "Pertunangan itu, apa Kakek serius?"

"Maksud mu? apa ucapan Kakek terdengar bercanda? kenapa masih saja kau mempertanyakannya?"

"Tapi, bagaimana jika dia sudah memiliki pilihannya sendiri, Kek?"

Toreno tidak langsung menjawab ia seperti memikirkan ucapan Nevan, terdengar dari ketukan jemarinya di atas meja.

"Apa Shasyania yang mengatakannya padamu?" masih terdengar nada keraguan hingga Toreno tidak langsung percaya dan balik bertanya, "jangan mencoba mencari alasan, Nevan!"

"Tidak Kek, coba Kakek pikirkan dulu, mungkin saja dia tidak memiliki keberanian untuk berkata jujur! padahal hal semacam itu penting untuk kita pertimbangkan."

"Mhh, oke! baiklah, kamu kerumahnya sekarang!"

Nevan yang awalnya merasa mendapat celah seketika tersentak, ini bukanlah jawaban yang Nevan inginkan, tapi ia juga tahu betul ketika Toreno sudah berkata maka akan sulit untuknya berkelit.

"Bukan seperti itu, Kek."

"Lalu? Katanya mau memastikan! kita tidak bisa menuduh, lebih baik tanyakan langsung! dan hubungi Kakek bila kamu sudah bersama Shasyania!" tekan Toreno, sebelum akhirnya kembali memberi ultimatum.

"Tapi jika kamu menolak, maka apa yang kamu katakan tadi akan Kakek anggap sebagai alasanmu saja! dan kamu tahu, Kakek tidak menyukai hal semacam itu, Nevan!"

Tut!

Panggilan terputus bahkan di saat Nevan belum sempat mangajukan protes dia sudah kehilangan kesempatan, ia terjebak dengan apa yang ia ucapkan sendiri sampai membuatnya kesal terlihat dari kuku tangannya yang memutih akibat terlalu keras mengepal.

🍁🍁🍁

Menunggu, satu kata yang acap kali bermakna jenuh tapi berbeda halnya jika menunggu orang yang di sukai, seperti halnya yang dirasakan oleh seseorang laki-laki yang masih lengkap dengan seragam sekolah, pandangannya lekat melirik ke area pagar sam...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menunggu, satu kata yang acap kali bermakna jenuh tapi berbeda halnya jika menunggu orang yang di sukai, seperti halnya yang dirasakan oleh seseorang laki-laki yang masih lengkap dengan seragam sekolah, pandangannya lekat melirik ke area pagar sampai orang yang di tunggu akhirnya muncul juga.

"Shaa, kamu sakit?"

Shasyania mengernyit heran mendapati Nanda telah berada di teras rumahnya, laki-laki itu berdiri sumringah menyambut kehadirannya.

"Nan, kamu... kenapa di sini?"

Nanda tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya, ia salah tingkah lalu mendekat bersama tangan menyodorkan sesuatu.

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang