Chapter 49 : Jarak

495 9 1
                                        

"Shasyania, bisa bicara sebentar?"

Sebuah suara menghentikan langkah ketiga gadis yang baru saja datang dari arah kantin, Shasyania ingat betul siapa orang tersebut, kakak kelas yang beberapa hari lalu membujuknya untuk ikut serta dalam lomba hits yang akan segera berlangsung di sekolah mereka.

"Nit, Rin, kalian duluan aja ke kelas," pinta Shasyania yang kemudian melangkahkan kaki mengikuti kakak kelas di hadapannya.

"Shaa, bener gak perlu kita temenin?" tanya Ririn ragu.

Anggukan dan senyum Shasyania menandakan jika apa yang ia katakan tadi tidak akan ia ubah hingga langkah Yuki menuntun Shasyania ke sebuah gazebo tepat di lantai tiga, dan di ketinggian tersebut hembusan angin terasa kuat menerpa kulit mereka.

"Shaaaaa," kata pertama yang keluar dari mulut Yuki bersama dengan raut bimbang yang kemudian menghiasi wajah gadis itu.

"Ahhh walupun setelah ini bisa aja gue nyesal tapi gue akan tetap ngomongin ini... yaaa setidaknya gue udah mencoba," imbuhnya yang sibuk sendiri, lalu kepalan di tangan menandakan betapa gelisah nya Yuki, seperti ada dua kubu yang tengah berkompromi dalam dirinya, "lo ingat Septi Linkara?" imbuhnya bertanya.

"Iyaa, tentu saja," jawab Shasyania.

Pertanyaan semacam apa itu? terang saja Shasyania tahu, tidak mungkin ia lupa apalagi sekarang mereka berada di sekolah yang sama.

"Kita ngobrolnya sambil duduk," ajak Yuki sebelum dia mulai bercerita, "mhh, mulai dari mana ya?"

Mendapat ekspresi menunggu dan tidak ingin membuang-buang waktu membuat Yuki mendadak kikuk ia berdehem.

"Pernah gak sih lo ngerasa kalau orang itu kok bisa yaa ngeselin padahal kita belum kenal secara personal?"

"Kak?"

"Dengerin dulu, ini bagian dari cerita yang mau gue sampaikan ke lo," terangnya, "perasaan seperti yang gue ucapin tadi, awal-awal gue ngerasain itu ke Septi! kebanyakan orang termasuk gue sendiri pernah berpikir kalau orang yang bernama Septi Linkara itu dia adalah sosok yang paling ambisius, pantang nyerah! menyebalkan! gadis yang terlalu memaksakan diri!" imbuhnya tanpa jeda lalu kedapatan melepas kaca mata yang bertengger di kuping, sejenak menghilangkan debu sampai akhirnya kembali ia gunakan dan melanjutkan cerita.

"Waktu pertama sekolah, hari di mana gue sekedar tahu nama itu, saking aktifnya itu orang dia selalu mau maju untuk segala hal yang di tunjuk bahkan pas lomba putri antar sekolah di umumin dia juga orang pertama yang mencatatkan diri sebagai peserta."

Ada jeda, Yuki melirik Shasyania untuk melihat reaksi orang yang tengah ia ajak bicara.

"Lomba Putri antar Sekolah, lomba paling hitz di kalangan kita! SMA Guardians beberapa kali mencatatkan diri sebagai pemenang tapi ada masa di mana kita kalah, dan tahun pertama saat Septi menjadi bagian dari Guardians ia dengan lantang ngomong kalau dia bisa memulangkan kembali mahkota itu, begitu percaya diri meskipun akhirnya di caci hanya karena kekalahan. Menurut lo itu adil gak?"

Shasyania masih menyimak ia belum bisa menjawab karena ia tahu cerita ini belum usai untuk di sampaikan padanya.

"Istilah gengsi buat menang jadi harga mati, gue pikir dia bakalan nyerah tapi anak itu malah bebal, yang diinginkan di sini itu juara satu bukan juara tiga karena itu juga Septi kembali dapat cacian remeh! gue juga ikut kesal, waktu itu gue juga ikut memojokkan dia, tapi ada waktu di mana situasi itu ngebuat gue jadi lebih mengenalnya! Gue Osis, gue ditugaskan buat jaga perwakilan kita, rasanya mau gue tempeleng itu orang, nyuruh dia stop biar posisi dia dipakai yang lain, tapi di hari gue ingin ngebuat dia nyerah itu hari dimana gue lebih mengenal siapa itu Septi Linkara, sisi berbeda dari sosok itu! Shaaa?"

"Lanjutin aja, kak."

"Lomba yang diadakan di setiap semester, dan sebanyak itu pula Septi gagal memulangkan mahkota juara pertama untuk SMA Guardians, entah udah sebanyak apa juga Septi mendapat olokan, dan kali ini, ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi dia sebelum angkatan kita disibukkan dengan ujian. Shaa?"

Belum terlalu jelas arah dari pembicaraan ini tapi Shasyania menjawab dengan lugas, "Aku harap kak Septi berhasil di kesempatan ini," jawabnya yang membuat Yuki mengernyit lalu berusaha untuk tetap sabar.

"Lo tahu? Septi punya kakak perempuan, kakaknya alumni sini namanya Rinka, kandidat terkuat untuk lomba putri sekolah, semangatnya berapi-api ingin menjadi seorang model makanya di setiap hal yang berhubungan dengan dunia pageant, ia ikut! namun saat beberapa minggu lagi lomba itu berlangsung, kakaknya harus di larikan ke rumah sakit."

Yuki menghela nafas, sulit untuknya kembali bercerita ia takut ini adalah langkah yang salah menceritakan kisah hidup seseorang yang belum ia tanya persetujuannya, haruskah Yuki menghentikan ceritanya? tapi ini sudah setengah jalan.

"Kak Rinka, semangatnya untuk tetap hidup dalam tawa seolah seperti magic untuknya bertahan, namun sel kanker itu semakin menyebar, dan di saat rasa sakit itu muncul maka Septi akan selalu menemani kakaknya, ngebuat semangat kak Rinka bertambah dengan membicarakan lomba putri sekolah, ada banyak cerita yang kak Rinka ucapkan pada Septi sampai pada hari itu, kak Rinka mengatakan ia ingin Septi mewujudkan keinginannya, menjuarai lomba tersebut, seperti janjinya akan membawa mahkota itu pulang ke SMA Guardians."

Yuki mengusap wajahnya gusar, ada genangan di pelupuk mata yang ingin ia sembunyikan, gadis itu tahu Septi telah berjuang mati-matian untuk menepati janji yang telah dibuat pada satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Dan lo tahu sendiri Shaa, sangat sulit bagi kita untuk memenangkan juara pertama, nyaris tidak ada kesempatan perwakilan dari SMA Merpati sulit ditandingi lo pasti tahu itu! SMA Guardians seperti tidak memiliki celah, tapi untuk kali inilah kita memiliki peluang, ini seperti jawaban, kita bisa menjuarainya! untuk jadi satu tim! meskipun bukan Septi tapi setidaknya gelar itu milik SMA Guardians, gue mohon... bantu kami membawa kemenangan itu untuk SMA Guardians, Shaa?" tekan Yuki dengan segala penggarapannya.

"Kak, aku turut berduka mengenai cerita kak Septi, tapi untuk selanjutnya itu tetap akan menjadi perjuangan kak Septi sendiri, apapun hasilnya nanti aku rasa dia akan lebih bangga karena dia tetap berjuang! setidaknya dia telah berusaha itu juga merupakan janji yang sudah ditepati."

"Shaaa, lo gak paham!"

"Tolong kak, hargai juga apapun keputusanku!"

Shasyania memberi gestur jika dirinya akan beranjak pergi hingga membuat Yuki selangkah mendekat lalu berkata, "Baiklah kalau emang kayak gitu gue gak akan maksa lagi, dan tolong apapun yang lo ketahui tadi, apapun yang gue ceritakan gue mohon anggap itu selesai di sini!"

"Iyaa, tentu saja kak," jawabnya.

Shasyania berjalan menjauh melewati lorong beberapakali pasang mata menatapnya penuh arti, paras Shasyania mampu membuat setiap mata memandanginya betah, tingginya di atas rata-rata yang membuatnya terlihat tampak begitu sempurna.

Lalu tibalah saat satu objek di depan sana membuat kelopak matanya melebar, mereka mungkin akan berpapasan andai saja sosok itu tidak mengayunkan kakinya ke kanan hingga jalan merekapun terpisah di persimpangan koridor.

Deg!

Ada kekosongan yang sulit untuk diungkapkan sosok itu bahkan seperti tidak menyadari kehadiran Shasyania, Nevan lewat tanpa menyapa, bukankah ini yang Shasyania inginkan tapi kenapa saat Nevan ikut memberi jarak hatinya justru merasa hampa?

Interaksi yang pernah sejengkal jari kini justru terasa begitu asing, dua orang itu menjauh bersama tujuan masing-masing tanpa adanya kata bahkan sekedar untuk tersenyum pun tidak.

Bersambung....

Mine? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang