Part 1 - Menuju Bulan Suci Ramadhan

4.6K 187 21
                                        

Backsound chapter ini adalahRamadhan Tiba - Opick Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Backsound chapter ini adalah
Ramadhan Tiba - Opick
Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!

Happy Reading!
Enjoy!
.
.
.

Sebuah rumah luas dan mewah tampak sepi seperti tidak berpenghuni. Rumah itu adalah kediaman keluarga Wijaya lebih tepatnya. Terlihat dua orang laki-laki dewasa memasuki rumah tersebut. Satu laki-laki berbadan tinggi tegap dan satunya laki-laki berkulit pucat memasuki pintu masuk utama, di tangan mereka penuh dengan kantong belanjaan. Maklum, besok sudah memasuki bulan suci ramadhan, sebagai saudara tertua dua orang itu berbelanja untuk menyetok bahan pokok makanan.

"Hoseok!!!" teriak yang tertua memanggil salah satu adiknya yang ada di lantai dua.

"Turun, Seok! Seret semua adikmu turun!!" titahnya. Tapi orang yang di teriaki sama sekali tidak memberikan sahutan.

"Hoseok!!!" teriak lagi yang tertua mengulangi titahanya.

"Iya, Bang!" sahut laki-laki bernama Hoseok dari lantai atas.

"Perlu Abang ulangi lagi perintah Abang?!" ultimatum Seokjin.

"Iya iya, Bang! Siap!"

"Ckckk heran deh punya adek nggak ada satupun yang waras," gerutu si sulung.

Perkenalkan, dia adalah Seokjin Raidan Wijaya, sering dipanggil abang atau bang Jin oleh adik-adiknya, si sulung di rumah besar keluarga Wijaya. Kenapa harus berteriak? Itu sudah jadi rutinitas harian Jin. Jika kalian pikir rumah itu sepi karena semua orang sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, kalian salah besar! Rumah Jin sepi karena semua adik-adiknya asyik molor di siang bolong, hahaa.

"Gue waras yah, Bang! Jangan samain gue sama mereka!" sahut adik Jin yang paling besar. Dia dengan santai merebahkan diri di sofa ruang tengah lantai bawah. Berbelanja dalam jumlah besar, sangat menguras energi baginya.

"Darah tinggi lama-lama Abang! Mereka selalu bikin Abang mumet."

Yoongi si putra kedua tertawa kecil melihat sang abang yang frustrasi. "Lagian lo sih, Bang! Udahlah gak usah teriak-teriak! Hemat energi ajah kayak gue!"

Terdengar suara langkah kaki berlarian menuju ke arah mereka. Jin langsung memasang posisi badan bertolak pinggang.

"Bagoooosss!! Abang ajak belanja pada gak mau! Abang minta standby buat bantu beresin belanjaan malah pada diem hening di atas! Pada molor kan pasti!" tebak Seokjin, dia hafal sekalian kelakukan adik-adiknya.

"Yeehh Abang asal nuduh! Nggak ada bukti berarti itu fitnah" sahut Jimin, anak kelima di keluarga itu. Dengan santainya dia menanggapi si sulung dengan wajah julidnya.

"Nggak boleh loh Bang maen fitnah-fitnah! Dosa besar. Apalagi besok udah puasa." Taehyung, kembaran Jimin ikut-ikutan membela diri dengan memasang wajah pura-pura melas.

ABANG (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang