Part 46 - Patah

867 120 122
                                        

Backsound chapter ini adalahDia - Sammy SimorangkirSilakan putar di platform musik yang kalian pakai!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Backsound chapter ini adalah
Dia - Sammy Simorangkir
Silakan putar di platform musik yang kalian pakai!

Kuingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa

Happy Reading!
Enjoy!
.
.
.

Pintu ruang kerja Jin diketuk lalu masuklah Rendi mengantarkan tamu untuk Jin. Tentu saja Jin langsung berdiri untuk menyambut keduanya.

"Silakan! Saya pamit," ujar Rendi mempersilakan tamu yang dia antar masuk lalu mengangguk pada Jin pamit kembali ke ruangannya, Jin balas mengangguk sebagai tanda mengizinkan.

Jin tersenyum melihat siapa yang membuat janji dengannya, sejujurnya dia cukup terkejut. Tamunya adalah seorang perempuan cantik berambut pendek, terlihat muda namun juga dewasa dalam waktu bersamaan. Dia mengenakan celana bahan biru muda dengan kemeja putih, sangat elegan.

"Silakan duduk!" Jin mempersilakan.

"Terima kasih banyak." Perempuan itu mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan Jin lalu mengatur posisi duduknya senyaman mungkin.

"Silakan utarakan maksud kedatangan anda!" Jin sebagai tuan rumah tentu mempersilakan tamunya dengan sopan.

"Boleh santai saja, Bang?" pinta perempuan itu to the point, Jin mengangguk dan terkekeh saat di minta demikian.

"Maaf Mal, Abang bersikap formal kan karena kamu membuat janji dengan Abang lewat jalur formal," ujar Jin menjelaskan kekakuannya.

"Ada apa? Kamu mewakili Notonegoro Grup ke sini? Tumben bukan Ardi?" Jin ulang bertanya apa maksud kedatangan perempuan cantik bernama Mala Retno Notonegoro, adik dari Ardi Notonegoro.

"Iya Bang, memang aku sendiri yang punya niatan datang ke sini. Sebagai seorang Mala, bukan sebagai anak bungsu dari Reno Notonegoro," jawab Mala dan Jin mengangguk paham.

"Kamu udah mulai masuk ke Notonegoro Grup juga yah? Ada projek yang bisa Abang bantu?" tanya Jin berubah serius, dia berpikir Mala sedang diberi tantangan oleh abangnya memegang suatu projek lalu membutuhkan bantuannya. Tapi Mala malah menggeleng, hal itu membuat Jin bingung.

"Mala kesini bukan untuk urusan pekerjaan, Bang." Hal itu membuat Jin bertanya-tanya tentang apa tujuan Mala menemuinya.

"Lalu buat apa? Sampai bikin janji segala. Formal sekali."

Mala menarik nafas dalam dan berusaha mengendalikan dirinya sebaik mungkin. Jantungnya berdebar bahkan di saat dia belum berbicara mengutarakan maksud kedatangannya.

"Sudah lama sekali kita saling mengenal, Bang. Terhitung sejak Abang SMA dan aku SMP. Kita saling mengenal baik karena Bang Ardi satu circle dengan Abang." Jin mengangguk mengiyakan dan menunggu kelanjutannya.

"Sejak dulu, di mata Abang hanya ada satu perempuan istimewa, yaitu Mutiara Resha Arasha. Perempuan baik dan cantik yang kini menjadi kakak iparku. Sungguh takdir yang lucu," kekeh Mala hambar.

ABANG (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang