23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Krispatih-Demi Cinta. Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
Jujur aku tak kuasa Saat terakhir kugenggam tanganmu Namun yang pasti terjadi Kita mungkin tak bersama lagi
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Kenapa lo gak cerita sama kita heuhh?" tanya Ken lembut pada Jin yang sudah sadar sejak satu jam yang lalu.
"Cerita apa?" tanya Jin balik namun pelan, tenaganya seakan hilang.
"Tadi gue dan Ken mau urus pembayaran. Kenapa gak bilang debit lo tinggal seratus lima rebu?" tanya Ken serius, membuat Jin terkekeh.
"Tadinya dua ratus tujuh puluh rebu," ralat Jin tambah terkekeh.
"Tapi udah habis buat bensin doang. Untungnya nggak ke mana-mana dan sempet keluar kota kan emang ditanggung kantor jadi hemat," jawab Jin tanpa beban, seolah bukan sebuah masalah.
"Jadi ini alasan lo sebenarnya kenapa pakai cc waktu bayar pengobatan Jungkook?" kali ini Rendi yang bertanya, Jin mengangguk.
"Terus sekarang gimana? Bayar pakai cc lagi kan?" tanya Jin pada Rendi, karena asistennya itu memang memiliki akses ke semua data pribadinya. Di beberapa kesempatan, jika diperlukan Rendi mengantongi izin dari Jin untuk mengambil alih kuasa.
Rendi mengusap wajahnya kasar. "Nggak, cc bebannya bakal berat nanti buat lo! Gue juga gak bisa pakai kartu yang lain, gue harus izin dulu. Karena gue tahu lo jarang banget sentuh tabungan lo." Jin mengangguk mengerti dengan keputusan Rendi.
"Terus ini semua dibayar dari mana? Asuransi gue kayaknya nggak bisa cover 100%. Pulang ajah kalo gitu!" Jin berusaha bangun dari tempat tidur pasien, berniat pulang saja.
"Aarrgghh!" Jin langsung mengerang karena bangun sedikit saja dari tempat tidur kepalanya nyeri luar biasa.
"Ssttt!!" Ken membaringkan Jin lagi perlahan dengan menadah belakang kepala sahabatnya lembut agar tidak jatuh ke bantal dengan kasar.
"Lo nggak usah mikirin bayar pengobatan dari mana. Lo bebas dapet perawatan terbaik dari RS. Sehat Persada ini." Ken mengelus kepala Jin lembut layaknya seorang kakak.
"Ngutang dulu yah!" Jin tertawa kecil tapi air mata mengalir dari sudut matanya.
"Uang gue yang ada di Wijaya.Corp. gak bisa ditarik karena perusahaan lagi butuh. Tabungan pendidikan Adek-Adek nggak boleh disentuh! Tabungan sisanya buat mobil Adek dan Si Kembar buat nanti mereka keluar SMA, itu udah jatah mereka sama kayak abang-abangnya yang lain. Tabungan satunya buat kebutuhan rumah kedepannya, gue nggak pegang uang buat beberapa bulan kedepan, jadi pake tabungan itu. Gue nggak mau ambil atau pakai dulu salah satu dari tabungan itu, takut Wijaya.Corp. nggak balik jaya dan nggak bisa balikin utuh lagi tabungan tersebut. Nanti Adek-Adek yang jadi korban, gue nggak mau itu terjadi," jelas Jin panjang lebar.