23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
N O T E ! ! ! Chapter ini panjang sekali, karena ada letter dariku untuk kalian di akhir chapter. Maaf jika latternya panjang, aku type yang suka menulis secara runtut soalnya!
Harusnya up tadi pagi darfnya udah siap padahal. Udah ngasih tahu juga sama yg comment. Tapi diriku ada kesibukan yaitu tidur seharian karena lagi palang merah. Bangun-bangun tadi dzuhur wkwkk. Malam malah keterusan nonton. Baru ngeuh sekarang. Maafkan yah. 🙏🏻 Lain kali aku pakai fitur jadwalkan up deh biar gak kelewat.
Backsound chapter ini adalah Mahalini - Putar Waktu
Silakan cari posisi baca yang nyaman! Putar lagunya di platform musik kalian dengan mode putar ulang! Wajib ini mah!
Seandainya bisa kuputar waktu Kan ku kembali ke masa kecilku Tak harus mengerti rasanya pilu Hadapi kerasnya dunia
Tapi mungkin sebagian orang ada yang tidak ingin mengulang masa kecilnya, bahkan ada yang membencinya.
Happy Reading! Enjoy! . . .
Dering ponsel Jin mengagetkan pemiliknya. Jin segera mengangkatnya karena sedang di lampu merah, takut suara ponselnya mengganggu orang lain. Nama Rendi tertera di layar ponselnya.
"Jin!! Gawat!" tanpa salam ataupun sapaan suara panik Rendi langsung menyapa gendang telinga Jin.
"Tenang dulu, Ren!! Ada apa?" tanya Jin.
"Space Tech. membatalkan kerjasamanya dengan kita untuk jadi partner pengembangan produk IT." Jin memejamkan matanya kuat mendengar berita itu. Apalagi ini? Itu yang ada di benaknya.
"Tenang! Gue ke kantor mereka sekarang juga," jawab Jin tenang.
"Ketemu di sana! Gue dan Rexa juga udah otw, tapi kejebak macet," ujar Rendi di seberang.
"Siip!" Jin langsung memasukkan ponselnya ke kantong celananya dan menatap lampu merah dengan resah. Begitu lampu berubah hijau dia segera memutar arah, melupakan pesan Ken pagi ini yang memintanya datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Kerja sama satu ini benar-benar berharga untuk Jin, mereka sudah menyiapkan projek IT sejak tiga tahun lalu. Jika kerja sama mereka putus, sama dengan Jin harus mengulang lagi sendirian nantinya.
Begitu sampai di gedung Space Tech. Jin segera masuk lewat akses VVIP, baguslah akses miliknya tidak di blokir. Jin berjalan cepat sambil menggulung lengan kemejanya hingga siku. Dia langsung masuk begitu saja ke ruangan Robi Susanto tanpa permisi, jauh sekali dari kata sopan.
"Maksudnya apa, Rob?" tembak Jin langsung. Robi yang tengah duduk di kursi kebesarannya langsung tepuk tangan dengan mata memandang Seokjin sinis.
"Jadi begini etika seorang Seokjin Raidan Wijaya? Tidak heran sekarang bisa jatuh sejatuh-jatuhnya," komentar Robi sambil berjalan mendekat ke arah Jin. Tanpa Ragu Jin juga maju dengan gagah untuk saling berhadapan dengan Robi.