23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Saat Kau Telah Mengerti - Virgoun Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Semua stabil, untuk persiapan pembedahan bulan depan nanti lo libur kerja dulu ok! Gue udah bicarain ini sama Rendi buat handle kerjaan lo. Lo juga nggak boleh nyetir, karena bahaya. Selain motorik atas lo yang sering kumat, penglihatan lo juga sering kabur." Semua orang mendengarkan dengan seksama penjelasan Ken.
"Kalian bantu gue jagain Abang kalian biar nggak ngelanggar semua yang udah gue jelasin tadi!" Adik-adik Jin mengangguk paham.
"Obat lo udah gue ganti, tapi tetep harus disiplin minum dengan tepat waktu." Jin mengangguk paham, dia pasrah saja mendapatkan banyak wejangan sebelum keluar dari rumah sakit.
"Makasih yah, Ken. Maaf banget gara-gara gue opname terus lo jadi sibuk mulu. Padahal lo pengennya santai sejak pegang management RS." Jin merasa tidak enak pada sahabatnya, merasa sangat merepotkan.
"Apaan deh, gue masih tetep seorang dokter meski dokter yang nggak suka jadwal sibuk." Ken tertawa mendengar permintaan maaf itu, meski memang benar dirinya tidak dapat santai jika Jin dirawat di rumah sakitnya.
"Maaf juga Ren, jadi ngebebanin lo soal kantor," lanjut Jin meminta maaf pada Rendi.
"Santai, adek-adek lo kan udah terjun di kantor, hiburan tersendiri ngeospek mereka." Beda respons dengan Ken, Rendi justru malah tengil sekali menjawabnya.
"Udah, ah! Udah beres kan? Mau pulang udah nggak betah disini." Jin turun dari ranjang pasien yang sigap langsung dibantu oleh adik-adiknya.
"Abang kuat!! Kalian nggak usah berlebihan," tolak Jin, dia mengalihkan bola matanya saat tanpa sengaja bersitatap dengan mata Namjoon.
"Pakai jaket, Bang! Pagi ini hujan soalnya di luar." Jin hanya mengangguk lalu segera mengambil jaket dari tangan tangan Namjoon dan segera mendahului keluar ruangan. Mereka saling melihat satu sama lain, heran dengan tingkah sang abang.
"Nggak usah dipikirin! Dia masih ngerasa bersalah sama lo, Joon," ujar Rendi yang membuat mereka sedih.
"Susul, gih! Gue masih mau ngurus banyak hal sama Ken soal kerjaan jadi nggak bisa turun bareng." Adik-adik Jin mengangguk paham dan segera menyusul Jin yang mungkin sudah cukup jauh. Ternyata benar, abang mereka sudah hampir sampai depan lift.
"Bang!!! Tungguin!" teriak Jungkook yang membuat Jin menahan pintu lift cukup lama untuk menunggu adik-adiknya.
"Jahat banget ninggalin kita, Bang! Kita kan bawa koper jadi nggak bisa lari!" protes Jimin dengan bibir manyun. Jin mengusap rambut Jimin gemas dan tertawa kecil dibuatnya.