23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagi yang belum membaca bagian 1 & 2, silakan baca lebih dulu!
Backsound chapter ini adalah Hingga Tua Bersama - Rizki Febian Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Kenalkan ini dr. James, beliau dokter bedah saraf yang akan menjadi dokter utama pembedahan Jin." Ken memperkenalkan seorang dokter yang tampilannya sangat bule. Dari namanya saja kentara jika dia adalah orang luar.
"Loh, bukan Bang Ken yang jadi dokter utamanya?" tanya Yoongi bingung.
"Aku belum punya pengalaman untuk kasus Seokjin. Pembekuan darahnya ada pada suboksipital, aku belum pernah melakukan pembedahan untuk pembekuan darah daerah sana. Kebetulan, ternyata Om Kris sudah membawa dr. James pada Papah sejak satu minggu lalu dan aku langsung setuju beliau yang menjadi dokter utamanya. Beliau ini sudah memiliki pengalaman menangani kasus yang sama. Jurnal beliau juga sangat sering dijadikan acuan di kalangan dokter saraf dan bedah saraf." Adik-adik Jin mengangguk paham dan lega mendengarnya.
"Kalian tenang saja!" Semua adik-adik Jin kecuali keluarga Prasetya dan Ken terkejut mendengar James berbahasa Indonesia, mereka kira James tidak dapat menggunakan bahasa mereka.
James terkekeh, "Saya sahabatnya Radi dan saya besar di Indonesia meski setelah SMA saya memutuskan tinggal di negara kelahiran ayah saya." Dia sedikit menjelaskan.
"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik. Mohon dukungannya." Dokter yang masih muda itu cukup ramah pada orang-orang baru.
"Kalian tenang saja, kamu juga tenang saja, Bang! Om jamin James bisa memimpin operasi dengan baik, dia juga sudah mempelajari dan mengkaji rekam medis kamu dengan seksama." Om Kris menambahkan penjelasan agar semua orang tenang,
"Gue juga nggak PD kalau harus jadi dokter utama di pembedahan kasus ini. Gue malah happy ada dr. James, selain gue senang lo bisa ditangani oleh dokter yang tepat, tapi gue juga bisa mengambil banyak ilmu dari beliau dalam proses pembedahan nanti," jelas Ken berterus terang.
"Gue gak masalah, siapapun dokter utamanya gue percaya kok. Gue percaya pada kalian dan tim," ujar Jin tenang dan yakin. Om Kris mengelus kepala Jin sayang, dia senang jika Jin sudah kembali memiliki rasa optimis sekarang.
"dr. Kenny, mari kita bersiap sekarang!" ajak dr. James sambil melirik jam tangannya, Ken mengangguk.
"Kita pamit untuk bersiap, mungkin sekitar dua puluh menit dari sekarang Jin akan segera dijemput tim perawat." Mereka yang ada di ruangan Jin mengangguk paham.
"Bang, jangan takut yah! Ada kita semua kok nemenin Abang meski nggak menemin ke dalem." Jungkook berkata sok dewasa seolah sedang menenangkan abangnya. Padahal yang butuh ditenangkan adalah dirinya sendiri.
"Kamu kali yang takut, Dek! Muka kamu yang tegang banget tuh!" Jin tertawa kecil melihat wajah pias Jungkook dan saat diteliti semua adiknya ternyata sama, tegang semua.