23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Double Up!!! Mumpung moodku lagi baik. Yang belum baca Part 35, silakan baca part tersebut terlebih dahulu yah guys!
Nggak aku revisi yah! Maaf jika banyak typo. Terlalu panjang soalnya! 5.621 kata
Aku up ulang karena yg pertama eror guys! Pas yg pertama aku up lalu kutinggal tidur, ternyata gagal di muat wkwkk. Mian yah, jatohnya jadi beda tanggal kayaknya ini mah wkwkk 🙏🏻 Apakah masih masuk double up? Entahlah!
Backsound part ini adalah Bohongi Hati Silakan putar di platform musik yg kalian pakai! Terapkan mode putar ulang karena partnya panjang!
Happy Reading! Enjoy! . . .
Enam adik Jin mencium tangan Ken yang menjadi imam sholat subuh mereka. Harusnya mereka sholat di masjid rumah sakit, tapi Ken yang meminta sholat di ruangan Jin saja.
Jungkook mengusap air mata yang jatuh tiba-tiba ke pipinya. Dia menatap Ken dengan dalam, biasanya abangnyalah yang mengimami mereka.
"Kenapa, Dek?" tanya Hoseok yang duduk di sampingnya, Jungkook menggelengkan kepalanya dan hanya tersenyum hambar. Para Abang dan Ken melihat Jungkook sendu. Mereka tahu pasti adik kecil mereka itu bersedih karena Jin.
"Jin, udah bangun?" terdengar suara Rendi yang berbicara di belakang mereka. Sontak mereka segera berdiri dari sajadah mereka masing-masing.
Jin terbangun! Abang mereka terbangun! Benar saja mata indah yang mereka tunggu akhirnya terbuka di pagi keempat pasca ketidak sadarannya.
Ken langsung menekan tombol untuk memanggil timnya agar segera datang. Sementara menunggu mereka datang, dia segera membuka sarung dan pecinya lebih dulu.
"Abang?" sapa Jungkook dengan suara bergetar, tangannya mengelus pipi kanan Jin dengan lembut. Air mata Jungkook mengalir lagi saking senangnya melihat Jin sudah membuka mata.
Jin mengedarkan bola matanya, mengabsen satu per satu orang yang ada di sekelilingnya. Dia ingin tersenyum tapi kesulitan karena masih memakai ventilator.
"Terima kasih sudah membuka matamu, Bang," ujar Jungkook, dia mengecup kening abangnya lama. Hoseok mengelus punggung si bungsu untuk menenangkan.
"Kalian keluar dulu yah! Gue mau periksa Abang kalian!" titah Ken pada mereka semua. Mereka mengangguk, mereka juga tidak banyak protes karena ingin cepat mengetahui update terbaru keadaan abang mereka.
Mereka berenam menunggu dengan gelisah di luar ruangan. Ken dan timnya menghabiskan waktu cukup lama dalam memeriksa keadaan Jin di dalam sana. Mereka berharap Jin segera pulih dan bisa kembali hidup dengan normal.
"Lo inget nama lo kan Jin?" tanya Ken pada Jin setelah membuka alat-alat yang sudah tidak diperlukan lagi. Anggukan dari Jin membuat senyum Ken langsung merekah. Matanya memanas seketika sambil terus mengecek semua tanda vital adiknya.