23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yg belum baca part sebelumnya, silakan baca lebih dulu!
Backsound chapter ini adalah Favorite Girl - Justin Bieber Silakan putar di platform musik yg kalian pakai dengan mode putar ulang!
Suara JB pas remaja emang gak ada obat sih. Dulu, "One Time" lagu favku. Saat SD aku adalah "Beliebers" wkwkk.
Happy Reading! Enjoy! . . .
Keesokan harinya pukul 06.40, penghuni kediaman keluarga Prasetya mulai beraktifitas di hari minggu tersebut. Jin dan adik-adiknya berencana membuat sarapan pagi ini sebagai balasan karena kemarin sudah di masakan banyak makanan oleh tante Emily.
"Mbak Mira, hari ini sarapan kita yang siapin yah," izin Jin pada pegawai rumah yang sedang beraktifitas di dapur.
"Nggak usah, Den! Sarapan soalnya sudah ada yang menyiapkan di meja luar. Katanya pagi ini sarapan di belakang rumah," jawab mbak Mira.
"Yah... udah keduluan sama Tante Em dan Kak Di yah, Mbak?" tanya Jungkook, tapi Mbak Mira menggeleng. Mereka semua mengerutkan keningnya bingung. Lalu siapa? Apa om Kris?
Untuk mengetahuinya, mereka memilih mengeceknya langsung ke belakang rumah. Tapi langkah mereka otomatis terhenti saat di lorong menuju belakang rumah ada seseorang yang sedang berdiri di tengah sana sambil mengamati foto-foto yang tertempel di dinding lorong. Orang itu memakai jaket yang ditudungkan dan mensedekapkan tangannya di dada.
"Permisi?" sapa Jin hati-hati.
Mendengar sapaan tersebut, orang itu menghadap ke sumber suara lalu membuka tudung jaketnya. Rambut hitam panjangnya otomatis terlihat saat tudung itu dibuka. Mereka semua terkejut melihat siapa orang itu, seorang perempuan yang potretnya banyak tertempel di lorong tersebut sekaligus mencuri perhatian mereka kemarin.
Perempuan itu tersenyum pada Jin dan keenam adiknya, dia menganggukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan sopan. Setelahnya dia melangkahkan kaki ke arah Wijaya bersaudara sambil tersenyum cerah. Setiap langkahnya seirama dengan degup jantung Jin yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Pemudaber beanie hitam itu gugup tiba-tiba.
Elliana, perempuan itu Elliana.
Begitu sampai di hadapan Jin, Elliana berhenti sejenak karena jalannya terblokir. Dia geser ke kiri tapi Jin juga ikut geser searah, dia geser ke kanan tapi Jin juga ikut geser searah. Enam adik Jin menahan tawa di belakang abang sulung mereka, sungguh kikuk sekali abang mereka ini, bisa mereka pastikan bahwa Jin sedang grogi sekarang.
"Boleh saya meminta jalan? Maaf sekali kalian memblokir jalan soalnya," pinta Elliana pada mereka bertujuh.
"Tentu, silakan!" Mereka akhirnya membuka jalan untuk Elliana.
"Makasih yah." Elliana tersenyum lalu melanjutkan jalannya.
"Pagi, Mah?" sapa Elliana, ternyata tante Emily dan Diandra sudah turun dari lantai dua. Mereka tepat berada di belakang Wijaya bersaudara.