23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Silakan baca lebih dulu chapter sebelumnya! Yang Terbaik Bagimu - Ada Band Backsound chapter ini adalah
Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Apa kabar, Bang?" Jin terkejut mendengar suara itu, dia membuka matanya dan bola matanya mencari sumber suara.
"Om?" lirih Jin melihat om Kris dan tante Emily juga datang. Abidzar berganti posisi dengan om Kris, kali ini Jin jadi berhadapan dengan sosok yang sejujurnya sangat dia rindukan.
"Apa kabar, Bang?" tanya om Kris mengulang lagi pertanyaannya.
"Alhamdulillah baik, Om." Om Kris mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Nggak capek main kucing-kucingan sama Om hmm? Ada apa?" Sungguh pertanyaan yang berhasil membuat Jin tidak mampu menjawabnya. Sejak pesta malam itu, Jin mengabaikan semua pesan keluarga Prasetya, baik ajakan makan siang atau sekedar bertemu, bahkan makanan kiriman Diandra atau tante Emily tidak pernah Jin terima.
"Om paling tidak suka dibohongi, Bang! Abang harusnya sudah tahu itu!" tegas om Kris, tidak satupun dari semua orang yang ada di sana ikut campur. Karena mereka tahu itu urusan mereka berdua, apalagi adik-adik Jin. Mereka tidak mau ikut campur dan berakhir memperburuk suasana seperti terakhir kali mereka ribut. Terutama karena mereka tidak paham apa duduk masalahnya.
"Maaf, Om?" Jin hanya mampu meminta maaf.
Om Kris menangkup wajah Jin dan menatap dalam mata gelap itu. Tatapan mata yang paling tidak ingin Jin lihat dari sosok Krisna Prasetya. Tatapan mata yang memancarkan kekecewaan dan kemarahan.
"Dengarkan Om, Bang!" pinta om Kris sangat tegas.
"Ada harga yang harus kamu bayar atas semua hal sudah kamu terima. Entah hidup atau mati, kamu harus tetap membayarnya!" Jin mematung sejenak mendengar kalimat tersebut.
"Jika pada akhirnya kamu menyerah di meja operasi, bayar semuanya dengan bukti kamu bahagia di kehidupan setelah kamu pergi!" Air mata Jin mengalir ke pipinya mendengar itu. Wijaya bersaudara tidak ada yang berani menyela, karena aura om Krisna sangat jauh berbeda dari sosok om Krisna yang selama ini mereka kenal.
"Kamu bisa buktikan itu?" tanyanya tajam, Jin menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar air matanya semakin mengalir deras. Manusia memang mustahil dapat memastikan itu.
"Maka dari itu tolong berjuang untuk keluar dari ruang operasi dengan selamat! Agar kamu bisa membayarnya sendiri! Tidak perlu diwakilkan adik-adikmu!" tegas om Kris.
"Keluarga Om tidak pernah memberikan batas waktu, Bang!" Kali ini nada suara om Kris mulai melunak namun tetap tegas. "Karena sejak awal, semua diberikan kepadamu tanpa batas waktu."
Air mata Jin semakin deras mengalir. "Meski jika Om mau, Om bisa mengambil semuanya darimu." Jin mengangguk paham.
"Tapi Om tidak melakukannya, karena itu hal yang harus Om jaga. Jadi mohon kerjasamanya! Tolong hiduplah lebih lama agar suatu hari kamu bisa membayar semuanya." Jin menelan salivanya perlahan, suaranya terasa tercekat.