23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Guys! Maaf harusnya double up sama chap sebelumnya tapi aku malah ketiduran. Kemarin malam karena pusing jadi diriku tidur wkkwk. Mianhae. 🙏🏻 Ini ajah nggak aku cek detail yah, panjang bgt 6341 kata. Jadi maaf atas typo yang bertebaran.
Backsound chapter ini adalah Last Child - PEDIH
Silakan putar di platform musik yg kalian pakai dengan mode putar ulang karena chapternya panjang bgt! Wajib bgt ini mah backsoundnya diputar berulang!
Happy Reading! Enjoy! . . .
Jin melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, dia merasa ada yang kurang.
"Di kemana, Bang? Lagi kuliah atau kerja?" tanya Jin sambil menatap Abidzar. Yang ditatap malah menatap om Kris, meminta bantuan untuk menjelaskan.
Jin melihat keanehan tersebut, dia beralih menatap kedua orang tua adik perempuannya itu. "Om, Tan, Adek Jin mana?" Tapi pasangan paruh baya itu tidak kunjung menjawabnya, mereka tampak kebingungan.
Jin beralih menatap adik-adiknya, Ken, dan Rendi untuk meminta jawaban. Perasaannya saat ini tiba-tiba tidak enak. Karena sama saja, tidak ada satupun dari mereka yang mau menjawab pertanyaan Jin.
Mereka semua tidak ingin Jin kepikiran, padahal sebuah hasil yang sangat luar biasa Jin bangun dalam keadaannya yang sangat prima.
Jin sadar ada yang salah disini, tidak mungkin orang-orang disekitarnya kesulitan menjawab pertanyaannya jika Diandra memang sedang kuliah atau bekerja atau sedang keluar. Dia tidak marah ataupun kesal Diandra tidak ada saat dia terbangun, justru dia khawatir jika adik perempuannya itu kenapa-napa melihat bagaimana reaksi semua orang yang ada di sekitarnya.
"Adekku baik-baik ajah kan?" tanya Jin serius, entah kenapa matanya mengembun secara tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang dan perasaannya tidak karuan.
"Tenang, Bang! Di ada di sini kok," ujar tante Emily sambil mengelus kepala Jin lembut.
"Iya tapi mana, Tan?" tanya Jin bingung.
Om Kris membuka tirai pembatas yang biasanya tidak terpasang di ruangan tersebut. Jin menoleh ke arah kiri, begitu tirai itu terbuka barulah dia menemukan Diandra. Matanya yang mengembun kini luruh dari sudut matanya. Diandra kenapa? Itulah pikirnya. Adik perempuannya itu tampak tidur dalam keadaan sakit, meski hanya dari view sisi saja Jin bisa melihat wajah Diandra saat ini sangat pucat.
"Di kenapa, Om, Tan, Bang?"
"Di gak papa, Bang." Om Kris berusaha menenangkan Jin.
"Gak mungkin gak kenapa-napa, Om! Abang ajah yang baru bangun dari operasi gak pakai alat bantu nafas, masa Di harus pakai harus pakai benda terkutuk itu!" sahut Jin tidak percaya. Dia tidak suka melihat keadaan Diandra seperti ini. Jin tidak pernah melihat Diandra sakit, kecuali saat kecelakaan mobil dulu.